Kamis, 14 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Blood Moon 27 Juli - Tata Cara Salat Gerhana Bulan, Ini Hukumnya Salat Gerhana

Fenomena Blood Moon atau bulan darah dapat disaksikan di Lampung dan juga di daerah lain di Indonesia

Tayang:
Editor:
nu.or.id
Salat Gerhana 

TRIBUNMANADO.CO.ID-Tata Cara Shalat Gerhana Saat Blood Moon - Apa Bedanya Sholat Gerhana Bulan dan Matahari? Gerhana Bulan Total bakal kembali mengunjungi Indonesia pada 27 Juli - 28 Juli 2018. 

Fenomena Blood Moon atau bulan darah dapat disaksikan di Lampung dan juga di daerah lain di Indonesia pada pukul 00.1 WIB pada 28 Juli 2018 dini hari.

Blood Moon sebenarnya adalah fenomena gerhana bulan total biasa yang sering terjadi di Bumi.

Tapi bagi umat Muslim, fenomena alam tersebut tergolong istimewa. Karena ketika terjadi gerhana bulan, umat Muslim dianjurkan untuk melaksanakan sholat (salat - KBBI) gerhana.

Hal ini dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Baca: Tak Mau Minta Nafkah ke Dipo Latief,Nikita Mirzani Ungkap Status Rumah Seharga Rp 10 Miliar,Ternyata

Pengertian Gerhana

Dalam kajian fikih, istilah gerhana matahari disebut dengan kusuf, sedangkan gerhana bulan disebut dengan khusuf. Walaupun sebagian ulama berpendapat kata kusuf adalah sinonim dari kata khusuf.

Melansir Kiblat.net , Kusuf terjadi ketika hilangnya cahaya dari matahari dan bulan secara keseluruhan, atau sebagiannya saja. Sehingga warnanya berubah manjadi hitam.

Sedangkan pengertian shalat kusuf ialah shalat yang dilakukan dengan tata cara khusus, ketika munculnya peristiwa gerhana matahari atau bulan, baik secara total maupun sebagiannya saja.

Baca: Partai Berkaya Milik Cendana, 6 Anak Soeharto Kumpul Targetkan 80 Kursih di DPR RI Pileg 2019

Hukum Shalat Gerhana

Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum shalat gerhana matahari atau gerhana bulan adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang ditekankan bagi setiap kaum Muslimin. Sebagian ulama menyatakan bahwa pendapat tersebut sudah menjadi ijma’ di antara mereka.

Sehingga Imam Syafi’i berkata, “Tidak boleh meninggalkan shalat gerhana, baik yang bermukim maupun mereka yang sedang melakukan safar, atau siapa saja yang mampu melaksanakannya.”

Pendapat di atas berdasarkan dengan hadits dari Nabi SAW. Dari Abu Musa RA, ia berkata, ”Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi lantas berdiri takut karena khawatir akan terjadi hari kiamat, sehingga beliau pun mendatangi masjid kemudian beliau mengerjakan shalat dengan berdiri, ruku’ dan sujud yang lama. Aku belum pernah melihat beliau melakukan shalat sedemikian rupa.”

Nabi SAW lantas bersabda, ”Sesungguhnya ini adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang ditunjukkan-Nya. Gerhana tersebut tidaklah terjadi karena kematian atau hidupnya seseorang. Akan tetapi Allah menjadikan demikian untuk menakuti hamba-hamba-Nya. Jika kalian melihat sebagian dari gerhana tersebut, maka bersegeralah untuk berdzikir, berdoa dan memohon ampun kepada Allah.” (HR. Muslim)

Baca: Ilmuan Temukan 1.000 Triliun Ton Berlian di Bawah Tanah

Kapan Diperintahkan untuk Shalat Gerhana?

Shalat gerhana diperintahkan ketika melihat gerhana matahari atau gerhana bulan dengan pandangan mata secara langsung (rukyah). Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW:

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved