Breaking News
Kamis, 9 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Siswa SD Pelaku Sodomi Itu Ternyata Pintar di Kelas

Heboh kasus asusila bocah SD di Kota Manado mengundang keprihatinan dari guru. Mereka tak menyangka anak seusia Boy

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Screenshot Video
Cabul 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Heboh kasus asusila bocah SD di Kota Manado mengundang keprihatinan dari guru. Mereka tak menyangka anak seusia Boy (9), nama samaran, sudah terlihat aksi tak senonoh.

Bahkan, informasi terakhir menyebutkan, Boy dan rekannya Bro (nama samaran) bocah berumur 9 tahun, sudah melakukan aksi asusila sejak di bangku kelas tiga.

Padahal, menurut J, guru agama Boy, anak didiknya itu adalah sosok yang baik dan cerdas. “Kaget sebenarnya. Anak ini tidak menunjukan hal-hal aneh di sekolah. Dia tergolong anak yang aktif dan agresif di sekolah. Dia anak yang pintar,” kata J yang mengajar di SD di bilangan Manado utara itu kepada tribunmanado.co.id, Selasa (17/07/2018).

Pak J mengaku tidak tahu apa dan sampai di mana pengawasan yang dilakukan orangtua terhadap Boy di luar sekolah.
“Anak ini di sekolah pintar. Tidak ada gelagat aneh-aneh atau menyimpang yang ditunjukkan. Cuma mungkin pengaruh faktor keluarga Boy juga barang kali,” kata J.

“Saya tidak tahu pasti apa yang membuat Boy melakukan itu kepada temannya. Cuma yang saya tahu orangtua anak ini sudah bercerai. Dia tinggal bersama oma dan opa,” ujarnya.
Boy hanya diawasi opanya. “Soalnya oma sih Boy itu kan tuna netra atau buta. Jadi yang mengurus semua keperluan Boy adalah opanya,” kata dia.

Kata guru ini, Boy tergolong siswa yang selalu terpenuhi segala keperluannya. “Saya lihat anak ini cukup baik secara finansial. Saya lihat dia dirawat dengan baik, di sekolah pun saya lihat anak ini tidak dan belum pernah mengeluh kekurangan,” ucapnya.

Sekolah berharap, kasus Boy adalah yang terakhir. “Jujur ini adalah kejadian yang pertama yang menimpa murid kami. Kiranya hal ini menjadi yang terakhir dan tidak ada lagi kasus-kasus atupun kejadian yang berkelanjutan,” guru yang ditemui tribunmanado.co.id di ruang kepala sekolah, Selasa pagi.

Meski kejadian ini tidak terjadi di lingkungan sekolah, menurut dia dan guru lainnya, hal ini akan dijadikan pelajaran yang berarti bagi sekolah. “Kalau dibilang lalai kayaknya tidak karena kami memang telah melakukan tupoksi kami sebagai pengajar itu sekolah. Tapi kan ternyata mereka melakukannya di luar sekolah,” ujarnya.
“Jujur saja kami kaget dengan adanya kejadian ini. Kasus ini akan jadi pelajaran bagi kami ke depan,” tambahnya.

Sekadar diketahui, kasus ini terungkap dari saling ledek antara siswa. Ada yang tidak senang diledek, datang melaporkan rahasia para pelaku dan korban kekerasan seksual itu kepada guru. Kasus ini terjadi pada Februari 2018 lalu, dan menurut para guru sudah dibicarakan dengan orangtua masing-masing siswa-siswi.

Jull Takaliuang
Jull Takaliuang (TRIBUN MANADO/HANDHIKA DAWANGI)

Komda Anak Sulut: Harus Cepat Tangani

Komisi Daerah Perlindungan Anak Sulawesi Utara meminta penanganan kasus sodomi dan perkosaan pada anak SD segera mendapat penanganan.

“Jika tidak, para korban dan pelaku yang masih di bawah umur ini malah akan menikmati apa yang mereka lakukan. Sebab, tak ada efek jera yang mereka dapatkan,” ujar Jull Takaliuang, Selasa (17/7/2018).

Anak-anak yang memiliki perilaku seks menyimpang ini nantinya juga akan menjadi pelaku pedofilia nantinya, jika sudah dewasa. Hal ini jika tak ada penanganan yang berarti.

“Paling tidak, ketika sudah ditangani, mereka tahu perbuatan mereka tidak benar. Kalau sudah 15 tahun kan sudah ada penjara anak. Ada pembelajaran bagi mereka,” ujarnya.

Kasus yang terjadi sudah harus dilaporkan ke polisi. Jangan didiamkan, karena dampaknya bisa meluas. Akan makin banyak korban, makin banyak anak yang berperilaku seks menyimpang.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved