Waspadai Risiko Penurunan IHSG
Tinggal selangkah lagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bakal kembali menembus level psikologis 6.000. Pada penutupan
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Tinggal selangkah lagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bakal kembali menembus level psikologis 6.000. Pada penutupan perdagangan di akhir pekan lalu, indeks saham sudah berada di 5.944,07.
Kenaikan indeks saham selama sepekan lalu juga berimbas pada nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam sepekan, kapitalisasi pasarnya naik 4,60% menjadi Rp 6.695 triliun. Sedangkan, pekan sebelumnya sebesar Rp 6.401 triliun.
Para analis meyakini pekan ini sentimen positif masih bakal menyelimuti bursa saham. IHSG berpotensi kembali menembus 6.000 pekan ini. Apalagi, selama sepekan terakhir, investor asing juga sudah kembali mencetak net buy. Pekan lalu, asing beli bersih Rp 1,16 triliun di bursa.
Bursa global juga rata-rata ditutup menghijau akhir pekan lalu. Ini lantaran tensi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China sedikit berkurang.
"Rencana pengenaan tarif terbaru dari AS tidak direspons Beijing secara agresif, pasar melihat mungkin akan ada negosiasi," kata Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri, Jumat (13/7).
Perhatikan RDG BI
Meski menilai indeks saham masih memiliki potensi menguat, rata-rata analis menilai penguatan bakal terbatas. Bahkan, ada kemungkinan bakal terjadi aksi ambil untung atawa profit taking di bursa saham.
Selain itu, Vice President Research Artha Sekuritas Frederik Rasali menuturkan, sentimen negatif masih belum benar-benar meninggalkan bursa saham. Pelaku pasar sejatinya masih belum terlalu agresif berinvestasi, lantaran mewaspadai potensi kenaikan suku bunga AS.
Oleh karena itu, pekan ini pelaku pasar juga bakal memperhatikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI). Pelaku pasar terutama menunggu bagaimana kebijakan BI terkait suku bunga 7¬-day reverse repo rate (7-DRR).
Frederik menilai, BI sudah mengambil kebijakan secara agresif dalam rapat petinggi bank sentral sebelum ini. Bulan lalu, BI menaikkan BI 7-DRR sebanyak 0,5% jadi 5,25%. "Kali ini mungkin BI akan lebih soft, tidak terlalu buru-buru menaikkan suku bunga," prediksi dia.
Namun, analis menilai BI juga bakal mengambil keputusan dengan mempertimbangkan volatilitas rupiah. Kalau rupiah tetap stabil di kisaran posisi saat ini, BI tidak akan menaikkan suku bunga. Namun bila kurs rupiah kembali volatil, Hans memperkirakan suku bunga berpotensi naik sekitar 25 basis poin.
Bila BI 7-DRR kembali naik, ada kemungkinan IHSG akan tertekan. Sebab, kenaikan suku bunga yang tinggi akan menekan kinerja emiten perbankan. Bila harga saham bank turun, IHSG juga berpotensi merosot, lantaran porsi emiten perbankan di pasar modal cukup besar.
Cuma, Hans menuturkan, pelemahan IHSG tidak akan terlalu dalam bila kinerja keuangan emiten di kuartal dua positif. "Laba korporasi bisa menjadi estafet bagi kenaikan indeks," ujar dia.
Menurut hitungan Hans, investor tetap harus mewaspadai kemungkinan penurunan indeks saham. Bila IHSG kembali merosot, ada kemungkinan IHSG jatuh ke level 5.400.
BEI Merevisi Target IPO Tahun Depan Jadi 35 Perusahaan
Bursa Efek Indonesia (BEI) tampak optimistis menghadapi tahun 2019. Otoritas bursa saham merevisi naik target jumlah perusahaan yang akan menggelar penawaran saham perdana atawa initial public offering (IPO), dari 25 perusahaan menjadi 35 perusahaan pada tahun depan.
"Sebenarnya untuk 25 perusahaan itu target yang paling pesismtis, apalagi kemarin ada tiga perusahaan yang melakukan listing serempak," kata Direktur BEI I Gede Nyoman Yetna, Jumat (13/7).
Keputusan revisi target tersebut dilakukan karena BEI telah melakukan pembicaraan dengan para penjamin emisi. Dalam pipeline mereka, masih terdapat banyak perusahaan yang berniat menjejakkan kaki ke lantai bursa.
Dengan appetite tersebut, Nyoman meyakini bahwa target 35 perusahaan bukan perkara yang sulit. Beberapa cara juga coba dilakukan oleh BEI untuk menjaga keinginan perusahaan melepas saham di bursa.
BEI antara lain melakukan pendekatan pada anak-anak usaha BUMN agar mau melepas saham perdananya.
Sebagai informasi, untuk tahun ini, target jumlah perusahaan yang IPO di BEI bakal terlewati. Sebelumnya, BEI menargetkan ada 35 perusahaan yang IPO. Tapi baru memasuki paruh kedua, sudah ada sekitar 31 perusahaan baru yang tercatat di BEI.
Sementara di pipeline, masih ada sekitar 15 perusahaan yang berniat IPO. Di antaranya Propertindo Mulia Investama baru saja melakukan mini expose.
Muhammad Nafan Aji, analis Binaartha Parama Sekuritas, mengatakan, target yang ditetapkan BEI di 2019 masih masuk akal.
Tingkat pertumbuhan ekonomi stabil dan iklim investasi juga menarik. "Kalau perusahaan masih wait and see untuk IPO, kesempatan perusahaan untuk melakukan ekspansi dan restrukturisasi akan hilang," tutur Nafan, Minggu (15/7). (Dian Sari Pertiwi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/awasi-indeks_20171109_002621.jpg)