Macet dan Drainase Jadi Tantangan Kota Manado
Kota Manado menghadapi tantangan yang tak mudah. Banjir dan macet menghantui Ibu Kota Provinsi Sulawesi Utara ini.
Penulis: Finneke | Editor: Siti Nurjanah
Laporan Wartawan Tribun Manado, Finneke Wolajan
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Kota Manado menghadapi tantangan yang tak mudah. Banjir dan macet menghantui Ibu Kota Provinsi Sulawesi Utara ini.
Data di Dinas Perhubungan Kota Manado, kecepatan kendaraan dari waktu ke waktu kian melambat.
Volume jalan dengan jumlah kendaraan sudah tak sesuai, meski kecukupan jalan masih ada. Karena kendaraan pasti terus berjalan.
Namun ada beberapa titik jalan yang terganggu karena kendaraan yang parkir di pinggir jalan.
Pertumbuhan kendaraan tiap pun pun kian naik. Rata-rata sepuluh persen per tahun. Data terakhir menunjukkan jumlah kendaraan bermotor di Sulut saat ini 562.473. T
erdiri dari mobil 123.447 yang terdiri dari plat hitam 113.364, plat merah 2.780 dan plat kuning 6.083. Sementara motor 439.246 terdiri dari plat hitam 433.424 dan plat merah 5.822. Dari jumlah tersebut diperkirakan taksi online sebanyak 8.000an unit.
Prasarana jalan terdiri dari jalan nasional memiliki panjang 53.070 kilometer dan lebar 6 - 12 meter. Jalan provinsi sepanjang 52.816 kilometer dengan lebar rata-rata 6 - 10 meter. Jalan Kota Manado sepanjang 616.010 kilometer dengan lebar 3 - 10 meter.
Kepala Dinas PUPR Kota Manado, Bart Assa, Jumat (13/7) mengatakan perlu adanya penambahan ruas jalan baru baik jalan kolektor maupun sekunder. Yang menyambungkan akses ke ring road 2 dan 3. Namun saat ini ring road tiga belum tersambung.
Selanjutnya masalah drainase di Kota Manado yang menjadi penyebab banjir. Drainase di kota ini belum terintegrasi.
Butuh anggaran ratusan miliar rupiah untuk menuntaskan masalah drainase ini. Namun katanya Pemkot Manado telah punya program mengatasinya secara bertahap.
Kota Manado adalah kota yang memang sudah ada sejak dulu, sehingga berbagai pembangunan tak memikirkan secara dini peristiwa banjir. Berbeda dengan pembangunan kota baru yang memang didesain sedemikian rupa.
"Masalah drainase di kota ini sangat rumit, karena sudah ada dari dulu kala. Ini tak terencana. Tapi meski agak terlambat, kita juga harus lakukan penanggulangan," ujar doktor lulusan luar negeri ini.
Semakin hari, makin banyak pembangunan di Manado. Seiring dengan itu, makin tak mumpuni juga saluran air di kota ini. Masyarakat seharusnya sadar.
"Saya contohkan. Pelebaran jalan, curi ruang drainase. Warga buat rumah, pagarnya curi drainase. Kalau di pinggir sungai, mereka bangun masih ke arah sungai. Ini tak terkontrol," ucap Assa yang pernah menjadi konsultan banjir ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/warga-manado_20180714_084651.jpg)