Kamis, 14 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kisah Perdana Menteri Inggris Winston Churchill yang Berencana Serang Pulau Sumatera

Inggris, negara eropa dan mantan penguasa lautan ini memang memiliki koloni di berbagai belahan dunia.

Tayang:
Editor: Siti Nurjanah
Wikipedia
Perdana Menteri (PM) Inggris Winston Churchill (kanan atas) bersama PM Kanada Mackenzie King (kiri atas), Presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt (kiri bawah) & Gubernur-Jenderal Kanada Earl of Athlone di Konferensi Quebec, 17-24 Agustus 1943. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Inggris, negara eropa dan mantan penguasa lautan ini memang memiliki koloni di berbagai belahan dunia.

Sebut saja koloni Inggris ialah Australia, Selandia Baru, Falklands, Afrika Selatan dan masih banyak lagi.

Hasrat kolonialis Inggris pernah juga dirasakan oleh Indonesia tahun 1810an di Maluku sebelum tahun 1816 menyerahkannya ke Belanda.

Waktu berlalu, Belanda akhirnya keok oleh Jepang yang datang menyerang nusantara tanggal 11 Januari 1942 di Tarakan, Kalimantan Timur.

Serangan kilat Jepang yang dijuluki Bahaya Kuning oleh Sekutu itu mengakhiri penjajahan Belanda atas Indonesia selama 3,5 abad.

Indonesia yang saat itu masih belum lahir menjadi negara rupanya mempunyai andil tersendiri dalam jalannya perang Pasifik.

Nusantara dianggap strategis di mata Perdana Menteri (PM) Inggris saat itu, Winston Churchill.

Churchill menganggap Indonesia merupakan 'jembatan' Sekutu untuk memenangkan perang melawan Jepang disamping sumber daya alamnya.

Arti penting itulah yang membuat Churchill berhasrat menyerang kedudukan militer Jepang di Indonesia.

Winston Churchill kemudian merencanakan sebuah operasi militer bersandikan Culverin.

Operasi Culverin sendiri rencananya akan menyerang Sumatera, menginvansi pulau tersebut yang kemudian digunakan sebagai pos kekuatan Inggris untuk menghantam kedudukan Jepang di Singapura.

Rencana Operasi Culverin kemudian disampaikan Churchill dalam Konferensi Quadrant di Quebec, Kanada pada tanggal 20 Agustus 1943.

Churchill menginginkan adanya operasi pendaratan amfibi di utara Pulau Sumatera pada Mei atau Juni 1944.

Keinginan Churchill tersebut tak lepas dari acuhnya Sekutu yang menganggap kawasan Asia Tenggara tak strategis bagi jalannya perang.

"Kita harus menyerang dan merebut satu pijakan (di pantai Sumatera) terhadap Jepang, di mana Jepang mesti merebutnya lagi dengan susah payah jika mereka tak ingin lalu lintas perkapalan mereka (di Selat Malaka) terganggu oleh serangan udara (Sekutu) dari Sumatera" ujar Churchill.

Sumber: Grid.ID
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved