Peritel Masih Berburu Merk Baru
Meski kondisi ekonomi nasional masih lesu akibat pelemahan daya beli, persaingan di bisnis ritel terbilang sengit. Maklumlah, sejumlah peritel
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Meski kondisi ekonomi nasional masih lesu akibat pelemahan daya beli, persaingan di bisnis ritel terbilang sengit.
Maklumlah, sejumlah peritel tetap berani menggeber ekspansi usaha dengan membuka gerai anyar untuk memperluas
penetrasi pasar.
Sembari membuka gerai baru, para peritel juga getol memperkenalkan brand terbarunya sebagai strategi jitu untuk
meningkatkan penjualan. Misalnya, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang pada tahun ini memboyong dua brand anyar, yakni
Lego dan Clarks.
Selain MAPI, beberapa peritel berencana menambah brand baru andalan mereka. Salah satunya adalah Grup Kawan Lama.
Nana Puspa Dewi, Marketing Director Kawan Lama mengatakan, tahun ini unit bisnis food & beverages (F&B) akan menambah
brand baru.
Saat ini, Kawan Lama sudah memiliki beberapa gerai ritel mulai dari Ace Hardware, Informa hingga Chatime.
Tahun ini, Kawan Lama memastikan portofolio bisnisnya akan bertambah dengan brand baru tersebut. "Product offering
selalu ada kebaruan, sekaligus konsep baru. Nah, itu rutin dan beberapa gerai lain. Nanti, ada produk baru lagi tahun ini.
Segmennya food & beverages segera, nanti ada," kata dia kepada KONTAN, Kamis (6/7) pekan lalu.
Nana belum bisa menyebutkan merek anyar tersebut. Belum lama ini, Kawan Lama memperkenalkan brand Cup Bop. Ini
merupakan brand F&B paling terakhir yang diperkenalkan dan sudah memiliki tiga gerai.
Adapun ekspansi gerai yang masih masif dilakukan adalah Chatime. Ekspansi Kawan Lama di segmen F&B tergolong
berkembang cukup pesat. Kini, Chatime sudah memiliki lebih dari 200 gerai.
PT Mega Advans Teknologi juga menggulirkan brand terkini di segmen outdoor pada kuartal II-2018 demi menggenjot
penjualan produk tersebut. Kelvin Joandy, Direktur Mega Advans Teknologi menuturkan, saat ini, kontribusi penjualan
perusahaan masih ditopang segmen sport dan outdoor, yang permintaannya terbilang cukup tinggi.
Kontribusi segmen outdoor terus bertumbuh seiring dengan semakin digemarinya gaya hidup sehat. "Saat ini, paling besar
kontribusinya segmen outdoor dan marine, keduanya menjadi backbone (penjualan) kami," ujar Kelvin kepada KONTAN, Rabu
(4/7).
Oleh sebab itu, untuk meningkatkan penjualan, peritel ini juga memperkenalkan brand baru, Kailas ke pasar Indonesia. Ini
menambah merek yang dijajakan Advans sebelumnya seperti Fitbit, ICOM, Furuno, Raymarine, dan Aonijie.
Penjualan PP Properti Berpeluang Meningkat
Pelonggaran aturan kredit properti dari Bank Indonesia (BI) membawa angin segar bagi bisnis di sektor properti.
Manajemen PP Properti Tbk (PPRO) pun optimistis realisasi penjualan pada semester kedua tahun ini akan lebih baik.
Tanpa memasukkan dampak pelonggaran aturan loan to value (LTV) saja, penjualan PPRO selama paruh pertama tahun ini
cukup signifikan.
Di semester I-2018, anak usaha PT PP Tbk (PTPP) ini telah mencatatkan marketing sales atau prapenjualan
Rp 2,1 triliun. "Jadi penjualan semester kedua akan lebih bergairah lagi. Meski begitu target kami masih tetap Rp 3,8 triliun
hingga akhir tahun nanti," kata Indaryanto, Direktur Keuangan PP Properti kepada KONTAN, akhir pekan lalu.
Sejatinya, performa marketing sales PPRO lumayan apik didukung strategi penjualan lewat kemitraan bersama investor
dengan melakukan penjualan borongan atau bulk sales. Pada Mei tahun ini, PPRO telah meneken kesepakatan penjualan bulk
sales senilai Rp 2,1 triliun.
PP Properti berhasil menjual tiga menara apartemen di Surabaya sekaligus kepada PT Arvada Investama, perusahaan yang
bergerak di bidang pengelolaan properti. Ketiga tower itu adalah Grand Shamaya tower 2, Grand Dharmahusada tower 2, dan
Grand Sungkono tower 4.
Namun, PP Properti tidak memasukkan seluruh penjualan bulk sales itu dalam pembukuan marketing
sales di semester I-2018. Sebagian akan dimasukkan dalam pencatatan di semester II-2018.
Mitra PPRO, yakni PT Arvada Investama, merupakan perusahaan penanaman modal asing dari perusahaan asal Dubai, Uni
Emirat Arab (UEA), Budget Petroleum. Jumat (6/7), PPRO mendapatkan kunjungan dari Zahid Bashir, Managing Director
Budget Petroleum Dubai; dan Nanang, CEO PT Arvada Investama di Surabaya.
Ketiga tower apartemen yang dijual ini tersebar di tiga titik kota, yaitu Surabaya Pusat, Surabaya Timur dan Surabaya Barat.
Indaryanto menyatakan, sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, pertumbuhan Surabaya terus meningkat setiap tahun.
Hal ini bisa dilihat dari perkembangan infrastruktur kota Surabaya yang saat ini tidak kalah dari DKI Jakarta. Bahkan dalam
satau dekade terakhir, Surabaya menjelma menjadi kota yang mengalami pertumbuhan ekonomi dan pembangunan
infrastruktur sangat pesat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan, pertumbuhan ekonomi Kota Surabaya mencapai
6,0% dan lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan nasional yang hanya sekitar 5,1%.
Pemerintah Kota Surabaya pun terus mengupayakan pembangunan sarana dan prasarana infrastruktur, seperti jalan tol
antarkota, menuntaskan pembangunan frontage road, dan perencanaan mass rapid transit (MRT). PPRO melihat, hal itu akan
menjadikan kota ini sebagai lokasi yang tepat bagi investor untuk membiakkan modalnya.
Selain penjualan ke Arvada Investama, PP Properti tengah menjajaki transaksi borongan ke investor lainnya. Pertama,
membangun perumahan untuk karyawan PT Antam di Tangerang Selatan dengan nilai Rp 150 miliar.
Kedua, penjualan Apartemen Begawan Tower 2 senilai Rp 250 miliar ke PT Dipa Karya Sejahtera. Ketiga, proyek Lamozi Tower 1 di Margonda
Depok senilai Rp 250 miliar ke PT Samander Bisnis Nusantara.
Di semester II-2018, PPRO berencana merilis beberapa properti baru di Surabaya, proyek kedua di Margonda, Apartemen
Aerocity Kertajati, serta Apartemen Little Tokyo Jababeka. (Dina Mirayanti Hutauruk/Andy Dwijayanto)
