Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Emiten Properti Menyiasati Pelemahan Rupiah

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) justru membuka peluang bagi emiten properti

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) justru membuka peluang bagi emiten properti membidik pasar warga asing untuk masuk ke properti dalam negeri.

Sebab, harga properti di dalam negeri cenderung murah bagi ekspatriat saat rupiah melemah.

Apalagi, pemerintah telah melakukan relaksasi kepemilikan properti oleh asing di dalam negeri dengan status hak pakai.

Direktur Utama PT Eureka Prima Jakarta Tbk (LCGP) Lukman Purnomosidi menyebutkan, pelemahan rupiah dimanfaatkan dengan menggenjot penjualan properti untuk orang asing. Dia menyatakan, sebagai perbandingan, harga apartemen di Indonesia lebih murah dibandingkan Singapura dengan rasio harga 1:5.

"Wilayah yang potensial untuk asing ada di Jabodetabek, Bali, Batam dan Bangka Belitung," ujar Lukman, akhir pekan lalu.

Tapi PT Ciputra Development Tbk (CTRA) punya pendapat beda. CTRA tetap fokus pada pasar domestik. Harun Hajadi, Managing Director Grup Ciputra, mengatakan, untuk menggaet pasar asing ke dalam negeri tidak mudah.

Ia beralasan, kepastian kepemilikan properti sangat berpengaruh, apalagi bagi orang asing yang tidak tinggal di sini. "Sosialisasi pemerintah mengenai hak pakai itu sangat rendah. Makanya sulit untuk terbang," kata Harun, Senin (2/7).

PT Intiland Development Tbk (DILD) juga melihat porsi pasar ekspatriat masih sangat kecil. Theresia Rustandi, Sekretaris Perusahaan DILD menyebut, pasar asing di Indonesia hanya 1%-2%.

Senior Analis Paramitra Alfa Sekuritas William Siregar menilai, aturan pemerintah sejauh ini belum dapat meningkatkan sentimen asing masuk ke Indonesia. "Properti justru tertekan dengan kenaikan suku bunga. LTV pun tidak signifikan," ujarnya, Senin (2/7).

Pelemahan rupiah bahkan bisa memicu ketakutan pasar untuk membeli properti. Namun, ia menilai saat ini adalah momen yang tepat membeli saham properti, terutama saat harga bottom. Apalagi ada prediksi properti akan booming pada 2020 hingga 2023.

Investor bisa memilih emiten berfundamental dan rasio keuangan cukup baik. William merekomendasikan ASRI, APLN dan BSDE. "APLN recurring income cukup besar. BSDE menarik karena landbank besar," ujar dia.

Relaksasi LTV, Bisa Dongkrak Kredit Konstruksi

Segmen kredit pemilikan rumah (KPR) bukan satu-satunya pendongkrak kredit. Bank Indonesia (BI) berambisi pelonggaran loan to value (LTV) juga akan mendorong kredit properti lain, termasuk kredit konstruksi.

Daya beli yang turun pada kredit perumahan ikut menyeret sektor konstruksi. Buktinya, tren kredit konstruksi terus turun.

Tercatat, kredit konstruksi tumbuh 13,49% per Mei 2018, atau lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 16,6% di bulan April, dan pertumbuhan 18,1% pada bulan Maret.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved