Proyeksi IHSG Masih Terbebani Pelemahan Rupiah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal menguat, Senin (2/7). Indeks ditutup turun 0,90% ke level 5.746,77, meskipun sempat
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal menguat, Senin (2/7). Indeks ditutup turun 0,90% ke level 5.746,77, meskipun sempat menguat pada sesi pagi. Investor asing mencatatkan penjualan bersih alias net sell sebesar Rp 193 miliar.
Analis Royal Investium Sekuritas Wijen Ponthus mengatakan, IHSG terseret koreksi yang melanda bursa Asia. Ancaman perang dagang antara Amerika Serikat dan China masih menimbulkan kecemasan di pasar.
Apalagi, dari pasar domestik, volatilitas nilai tukar rupiah memicu sentimen negatif. Menurut Wijen, tekanan pada bursa saham bisa mereda apabila Bank Indonesia (BI) mampu memperkuat rupiah.
Analis Kresna Sekuritas Robertus Yanuar Hardy bilang, meski angka inflasi bagus, namun, hari ini laju indeks terjegal pelemahan rupiah.
"Besok, sentimen penggerakan indeks masih terkait perang dagang dan currency," kata Wijen, Senin (7/2). Itu sebabnya, ia memprediksi, IHSG masih akan terkoreksi dengan level support 5.700 dan resistance 5.850.
Namun, Robertus melihat ada peluang indeks rebound. Data inflasi yang stabil mungkin bisa menyokong pasar. Prediksinya, besok, pergerakan indeks di kisaran 5.700 hingga 5.900.
Rupiah kembali koreksi di awal pekan ini. Kemarin, pergerakan rupiah spot melemah 0,42% ke level Rp 14.390 per dollar Amerika Serikat (AS).
Pelemahan terjadi karena the greenback rebound terhadap mayoritas mata uang dunia. Dollar AS berhasil menunjukan keperkasaannya setelah perang dagang memanas.
Selain itu, European Central Bank (ECB) yang masih menerapkan kebijakan moneter longgar dan tidak bernafsu menaikan suku bunga acuan di tahun ini menekan euro yang mata uang Asia lainnya.
Sebaliknya, The Federal Reserve terus memberikan sinyal kenaikan bakal agresif. Alhasil pelaku pasar lebih memilih dollar AS untuk dijadikan aset lindung nilai.
Analis Asia Tradepoint Futures Andri Hardianto menambahkan, pelemahan rupiah juga terjadi akibat respons beragam dari para pelaku pasar terkait kenaikan suku bunga acuan pada Jumat (29/6). Sebab, kenaikan yang mencapai 50 bps, lebih tinggi dari ekspektasi para pelaku pasar.
Alhasil, valuasi rupiah di kurs tengah BI menanjak 0,50% menjadi Rp 14.331 per dollar AS. Namun ia memperkirakan, rupiah hari ini berpeluang menguat di kisaran Rp 14.250-Rp 14.320 per dollar AS.
Sedangkan Mikail masih memproyeksikan, rupiah melemah di kisaran Rp 14.330-Rp 14.390 per dollar AS. "Inflasi yang terlalu rendah dikhawatirkan menghambat laju ekonomi nasional di tahun ini," pungkas dia. (Elisabet Lisa/Dimas Andi Shadewo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/awasi-indeks_20171109_002621.jpg)