Saling Klaim Pasca Hitung Cepat Pilkada Serentak
Pasca pelaksanaan pilkada serentak dan hitung cepat, beberapa partai politik mempublikasikan hasil sementara para kadernya
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Pasca pelaksanaan pilkada serentak dan hitung cepat, beberapa partai politik mempublikasikan hasil sementara para kadernya yang menang dalam pertarungan. Hasil hitung cepat, meski sementara dianggap sebagai ujian soliditas para kader. Pendiri LSI Denny JA, menyebutkan setidaknya terdapat tiga faktor penentu calon kepala daerah bisa menang atau kalah di Pilkada Serentak 2018.
Ketiga faktor tersebut ialah kantong besar, pesona tokoh dan mesin partai politik. Soal kantong besar, menurut Denny setiap calon kepala daerah harus bisa menguasai lumbung suara. Ia kemudian mencontohkan pasangan calon gubernur NTB yang menang hasil quick count Zulkieflimansyah-Siti Rohmi Djalilah karena putra daerah Sumbawa di mana daerah itu merupakan kantong besar perolehan suara. "Zul beruntung dari Sumbawa putra daerah ternyata masih sesuatu, politik identitas masih bisa mempengaruhi kantong besar," ujarnya.
Denny menambahkan, paslon yang mempunyai pesona bisa menggaet pemilih. Hal itu menurut Denny terjadi di Pilkada di Jawa Tengah, yakni terpilihnya kembali Ganjar Pranowo sebagai Gubernur. "Incumbent diuntungkan dan pendatang baru merangkak dari bawah, ini seperti Ganjar 70 persen menang kecuali ada masalah leadership," kata Denny JA.
Mesin partai politik yang bekerja dalam dua minggu terakhir menjelang pencoblosan Pilkada serentak, juga disebut-sebut sebagai faktor penentu menang-kalahnya paslon di pilkada serentak 2018. "Pekerjaan mesin politik 2 minggu terakhir itu imigrasi suara masif, di Indonesia loyalitas suara untuk tokoh kecil sekali. Mayoritas pemilih mengambang kedekatan tokoh tergantung isu," ujar Denny JA.
Menurut Denny hal itu terjadi pada Pilkada Jawa Barat dimana Cagub Jabar Sudrajat-Ahmad Syaikhu berhasil menyalip pasangan Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi. "Seperti pasangan Asyik berada di urutan kedua setelah Ridwan Kamil ini mesin partai bekerja," jelas Denny.
Sekjen Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDI-P) Hasto Kristiyanto mengklaim partainya memenangkan 97 persen daerah dalam Pilkada 2018. Dari 154 kabupaten dan kota, PDI-P berpartisipasi di 152 daerah. Dari 152 daerah yang diikuti, PDI-P menang di 91 daerah atau sebanyak 60 persen dan kalah di 59 daerah. Ditinjau dari kader yang terpilih di 91 daerah yang menang, kader yang menjadi kepala daerah sebanyak 33 orang dan wakil kepala daerah 38 orang. Sementara itu di tingkat provinsi, dari 17 pilkada, PDI-P memenangkan 6 daerah.
Daerah-daerah itu di antaranya Bali, Jawa Tengah, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Sulawesi Selatan. Dari enam provinsi tersebut, ada empat kader PDI-P yang menjadi gubernur dan tiga kader menjadi wakil gubernur. "Kemenangan PDI-P berada di tingkat kabupaten kota. Yang menggembirakan jumlah kader Partai yang terpilih semakin banyak," kata Hasto.
Sekjen PAN, Eddy Soeparn mengaku bersyukur,bersama koalisi partai pendukung mencatat kemenangan paling tinggi dalam pilkada serentak 2018 berdasarkan hasil hitung cepat beberapa lembaga survei. Dari Hasil Hitung Cepat Pilkada Serentak 2018 Partai Amanat Nasional (PAN) unggul di 10 Provinsi dari 17 provinsi atau memengkan 58,8 persen dari pemilihan gubernur.
Berdasarkan hasil hitung cepat koalisi dukungan PAN memenangkan pertarungan di Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku. "Kami bersyukur atas kemenangan hasil quick count (hitung cepat) tersebut tapi masih menunggu hasil real count KPU", ujar Sekjen PAN, Eddy Soeparno.
Kemenangan ini menurut Eddy Soeparno merupakan hasil kerja keras kader di daerah dan kerjasama dengan koalisi partai pendukung. "Hasil baik ini kami syukuri sebagai kerja sama yang positif antara para paslon dengan kader-kader PAN di berbagai provinsi. Tentu ini merupakan modal baik bagi kita untuk memperjuangkan pemenangan di pilpres dan pemilu", ucap Eddy.
Kemenangan ini menurut Eddy menunjukkan soliditas kader-kader PAN untuk berjuang memenangkan pasangan yang diusung di daerah. "Tentu ini memberikan sinyal kuat bagi PAN untuk dapat bertarung dengan efektif di tahun politik tahun 2019", tambahnya.
Sementara dua partai politik di luar pemerintahan, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Gerindra sangat percaya diri untuk melenggang ke Pemilihan Presiden (Pilpres) di 2019. Menyusul hasil perhitungan cepat yang dinilai sangat menggembirakan. Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera mengatakan, meski ada beberapa daerah yang terlihat kalah tapi perolehan suaranya cukup menggembirakan.
Daerah itu adalah Jawa Barat dan Jawa Tengah, di mana perolehan suara pasangan calon (paslon) yang diusung PKS dan Gerindra memiliki selisih yang sangat tipis dari paslon yang unggulan "Seperti di Jabar yang saat ini masih kejar-kejaran, lalu Jateng yang juga terlihat suaranya hampir 40% ini luar biasa sangat menggembirakan," katanya.
Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengapresiasi jalannya Pilkada Serentak 2018 yang berlangsung damai dan harmonis. Tidak ada gesekan maupun manuver yang menghasilkan perpecahan. Baik masyarakat pada umumnya, maupun para kandidat dan pendukungnya terlihat sangat dewasa dan bijaksana mengikuti pencoblosan dan hasil quick count dari berbagai lembaga survei yang sudah merilis hasil Pilkada Serentak 2018.
“Alhamdulillah bangsa kita sudah semakin dewasa dalam berdemokrasi. Para kandidat, pendukung, dan masyarakat menunjukan jiwa ksatria yang luar biasa. Kita harap tidak ada perpecahan sebagaimana yang dikhawatirkan selama ini,"katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ganjar-pranowo_20180628_081838.jpg)