Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

BNI dan BTN Berupaya Geber Efisiensi

Efisiensi menjadi fokus perbankan sejak beberapa tahun terakhir. Langkah bersih-bersih kredit bermasalah di tengah perlambatan

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Tribun Manado/ANDREAS RUAUW
Warga mengurus pendaftaran kartu debit bni di pojok BNI Garuda Debit Card pada Garuda Travel Fair di Mantos tiga, Jumat (23/3). Event Garuda Indonesia Travel Fair (GATF) ini akan berlangsung selama 23-25 Maret 2018. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Efisiensi menjadi fokus perbankan sejak beberapa tahun terakhir. Langkah bersih-bersih kredit bermasalah di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi menjadi cara bank agar biaya operasional tidak bengkak.

Setidaknya, kerja keras itu berbuah manis. Dari data Statistik Perbankan Indonesia (SPI), biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) bank umum berada di level 75,59% per April 2018. Angka ini turun 422 bps dari sebesar 79,81% di periode sama tahun lalu.

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) turut menyiapkan strategi untuk efisiensi. Mahelan Prabantarikso, Direktur Strategy, Compliance, and Risk BTN mengatakan, pihaknya telah berbenah mulai dari kredit bermasalah hingga biaya dana agar biaya operasional tidak naik. "Kami menargetkan BOPO berada di kisaran 79% di akhir tahun" kata Mahelan kepada KONTAN, Rabu (27/6).

Bank berkode saham BBTN ini mencatat rasio BOPO sebesar 84,76% per Maret 2018. Posisi itu naik dari posisi 84,13% pada Maret tahun lalu.

Ada sejumlah upaya BBTN mencapai BOPO yang lebih rendah. Diantaranya, bank milik pemerintah ini terus memperbaiki kredit bermasalah atau non performing loan (NPL). Cara ini untuk mencegah pembengkakan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN).

Selain itu, BTN akan mengurangi biaya operasional melalui pemangkasan biaya dana dan biaya overhead. BTN akan membenahi komposisi biaya dana atau cost of fund di tengah kenaikan suku bunga acuan.

Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) tak mau ketinggalan menurunkan rasio BOPO. Bank berplat merah ini terbilang cukup efisiensi tercermin dari rasio BOPO yang berada di level 70,5% di kuartal pertama tahun 2081.

Anggoro Eko Cahyo, Direktur Keuangan BNI mengatakan, pihaknya akan menjaga kualitas kredit sebagai strategi untuk menjaga rasio BOPO tidak naik. "Kami menargetkan rasio BOPO di akhir tahun 2018 ini lebih baik dibandingkan tahun 2017," terangnya.

Sebagai gambaran, bank dengan ticker saham BBNI ini mencatat rasio BOPO sebesar 71% di akhir tahun lalu. Rasio BOPO BNI itu trennya terus menurun dibandingkan sebesar 73,6% di tahun 2016, dan 75,5% di tahun 2015.

Selain itu, BNI akan melakukan berbagai upaya efesiensi terutama penekanan biaya operasional. Anggoro mengakui efisiensi merupakan salah satu aspek penting dalam pencapaian laba bank. (Maizal Walfajri)

Rasio BOPO

Kategori
2015
2016
2017
April 2018 (yoy)

BUKU I
85,86
88,09
87,31
3,36

BUKU II
85,48
85,38
86,33
2,53

BUKU III
90,71
89,33
86,08
2,54

BUKU IV
70,46
75,05
70,31
-3,37

(%)
Sumber : Statistik Perbankan Indonesia (SPI)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved