Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Bank Parkir Dana di Surat Berharga

Kredit yang masih seret membuat likuiditas semakin luber. Alhasil, bank memarkir dana lebih ke surat berharga untuk memperoleh

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
tribunnews
kredit usaha rakyat 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Kredit yang masih seret membuat likuiditas semakin luber. Alhasil, bank memarkir dana lebih ke surat berharga untuk memperoleh imbal hasil (yield) karena terjadi perlambatan pendapatan dari bunga kredit.

Statistik Perbankan Indonesia (SPI) mencatat, penempatan surat berharga oleh perbankan mencapai Rp 1.091,50 triliun per April 2018.

Jumlah ini naik 16% dibandingkan periode sama tahun lalu. Pertumbuhan penempatan dana di surat berharga ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit yang sebesar 9,2% hingga April 2018 lalu.

Anggoro Eko Cahyo, Direktur Keuangan Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menilai, wajar terjadi kenaikan pada penempatan dana di surat berharga. Sebab, surat berharga digunakan bank untuk mengelola likuiditas di tengah perlambatan kredit.

Lebih lanjut, penempatan dana bank di surat berharga hanya bersifat sementara. "Ini sebagai alternatif yield enhancement dalam memanfaatkan likuiditas yang masih longgar di awal tahun ini," katanya, Selasa (26/6).

Bank berkode saham BBNI ini mencatatkan total penempatan dana di surat berharga mencapai Rp 90,95 triliun per Mei 2018. Jumlah ini naik 17,79% dibandingkan senilai Rp 77,21 triliun di Mei 2017.

BNI memperkirakan penempatan dana di surat berharga bakal turun, mengingat bank lebih memprioritaskan mengalirkan dana ke imbal hasil yang lebih tinggi yakni kredit.

Hanya saja, jika terdapat kelebihan likuiditas, maka bank dapat memarkir dana pada surat berharga yang likuid untuk dapat dijual dengan cepat di pasar.

Adapun, surat berharga BNI yang tersedia untuk dijual mencapai Rp 65,85 triliun per Mei 2018.
Senada, Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk mengatakan, penempatan dana di surat berharga untuk mengelola likuiditas agar tetap likuid.

Besaran nominal di surat berharga, menurut Parwati, sangat tergantung dari kebutuhan likuiditas setiap bank. Saat ini, jumlah dana NISP yang ditumpuk di surat berharga naik 20% per April 2018. Parwati mengamini, jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit 16% pada periode yang sama.

Ferdian Satyagraha, Direktur Keuangan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) menuturkan, di tengah kenaikan bunga kredit, korporasi lebih memilih mencari dana melalui obligasi dibandingkan mengajukan pinjaman kredit di bank.

Akibatnya, bank mengalami kelebihan likuiditas karena permintaan kredit kian lambat. Kondisi itu membuat penempatan dana di surat berharga Bank Jatim mencapai Rp 8,67 triliun per Mei 2018, atau naik 14,32%.

Bank berkode saham BJTM ini tercatat meraih pendapatan bunga sebesar Rp 168,15 miliar dari penempatan dana di surat berharga. Jumlah tersebut melebihi target pendapatan bunga dari surat berharga sebesar Rp 131,39 miliar di kuartal II 2018.

BJTM berencana memangkas penempatan dana pada surat berharga. Pada akhir 2018, Bank Jatim menjaga porsi dana di surat berharga sebesar Rp 4,1 triliun dengan target pendapatan bunga sekitar Rp 251,73 miliar. (Marshall Sautlan)

Surat Berharga di Bank

Keterangan
Des-17
Apr-17
Apr-18
YTD
YOY

Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
19,9
60,79
14,74
-28,94%
-75,75%

Surat Perbendaharaan Negara
53,29
41,54
66,91
25,55%
61,07%

Obligasi
637,78
568,75
634,48
-0,51%
11,55%

Lainnya
324,41
269,87
375,37
15,70%
39,09%

Total
1.035,39
940,96
1.091,50
5,41%
16%

(Dalam Rp triliun)
Sumber: SPI OJK

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved