Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Rupiah Melemah, Emiten Atur Strategi

Nilai tukar rupiah kembali melemah ke level Rp 14.075 per dollar AS. Sepanjang tahun berjalan, rupiah sudah terpangkas hampir 4%.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
tribun
Pergerakan saham 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali melemah ke level Rp 14.075 per dollar AS. Sepanjang tahun berjalan, rupiah sudah terpangkas hampir 4%. Alhasil, sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) ikut terpapar pelemahan rupiah.

PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), misalnya. Emiten farmasi ini masih menggunakan 90% bahan baku dari impor. Direktur Utama Kalbe Farma, Vidjongtius mengungkapkan, setiap pelemahan rupiah sebesar 1% dapat membuat biaya produksi naik sekitar 0,30% sampai 0,35%.

"Oleh karena itu, Kalbe segera menyiasati dampaknya dengan meninjau kombinasi produk mixed yang memiliki margin yang lebih baik," ujar Vidjongtius kepada KONTAN, Jumat (22/6).

Berhubung fluktuasi kurs kerap terjadi, KLBF juga memitigasi risiko dengan menjaga keseimbangan kas dalam bentuk dollar AS. "Kami selalu menjaga (kas) di jumlah US$ 40 juta hingga US$ 50 juta di neraca," kata Vidjongtius.

Emiten lain yang terpapar dampak kurs adalah PT Kimia Farma Tbk (KAEF). Emiten farmasi pelat merah ini mennyiasatinya dengan membeli bahan baku dalam jumlah besar dalam jangka waktu dua tahun. Dengan begitu, setidaknya KAEF bisa menekan harga bahan baku 5%-10%.
Membebani pasar

Begitu pula dengan perusahaan ritel PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES). Setidaknya lebih dari 50% produk yang dijual ACES merupakan barang impor.

Sekretaris Perusahaan ACES, Helen Tanzil menyebutkan, jika pelemahan rupiah terjadi dalam jangka panjang dan signifikan, ACES berpotensi mengerek harga jual produknya. "Kalau perubahan cukup signifikan, biasanya harga akan disesuaikan," ungkap dia, kemarin.

Saat ini, pergerakan harga rupiah masih dianggap aman bagi ACES. Emiten perkakas rumahtangga ini juga menjaga kinerjanya dengan sejumlah strategi. Misalnya, ekspansi dengan membuka gerai baru maupun strategi operasional menggelar pemasaran efektif dan efisien.

Kepala Riset Narada Aset Manajemen, Kiswoyo Adi Joe, menilai saat ada gejolak kurs, sebaiknya investor menghindari emiten farmasi seperti KLBF dan KAEF. Pasalnya, penguatan dollar AS bisa membebani pasar. Jika kekuatan dollar AS masih berlanjut di atas level fundamental rupiah, yakni Rp 13.500 per dollar AS, hal itu bisa membebani Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Namun, investor yang kadung mendekap KLBF tak perlu buru-buru keluar. Kiswoyo menilai, secara fundamental KLBF masih cukup bagus. "Harga wajarnya di level Rp 1.400 per saham," kata dia.

Di sisi lain, meski ikut terpapar dampak kurs, ACES lebih berprospek bagus. "Karena bisnisnya unik dan tidak ada saingan, ketika beli barang di saat gejolak kurs, dia bisa jual lebih mahal," kata Kiswoyo.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Christine Natasya bilang, margin ACES yang tak terlalu besar berpotensi tergerus jika gejolak kurs cukup lama. "Ini bisa membuat harga jual dia jadi lebih mahal," kata dia.

Namun, saat ini ACES menerapkan strategi inventori yang cukup ketat, yaitu menyimpan barang setidaknya untuk 200 hari penjualan.
Christine menilai, fundamental ACES masih cukup bagus dengan pertumbuhan pendapatan 21,5% pada kuartal I-2018. Dia merekomendasikan hold untuk ACES dengan target Rp 1.540 per saham.  (tribun/kontan)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved