Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

FIFA World Cup Russia 2018

Yaroslav yang Cinta Raja Ampat

Rabu (20/6) siang matahari bersinar terik. Saya sedang duduk sendiri di bangku taman Vorobyovy Gory, atau dalam bahasa Inggris

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO/ALDI PONGE
Peserta media gathering Pamasuka 2018 oleh Telkomsel dan Wisatawan asing berfoto di Piaynemo, Kabupaten Raja Ampat, pada Selasa (13/2/2018) 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Rabu (20/6) siang matahari bersinar terik. Saya sedang duduk sendiri di bangku taman Vorobyovy Gory, atau dalam bahasa Inggris disebut Sparrow Hills, sambil menghisap sebatang rokok yang saya bawa dari Indonesia. Saya sedang menikmati kesejukan udara sambil berteduh di bawah pohon besar saat seorang pria minta izin untuk duduk di sebelah saya.

Dia meminta izin menggunakan bahasa Inggris. Menurut saya logatnya tidak terdengar seperti logat orang Rusia ketika berbicara dalam bahasa Inggris. Wajahnya pun tidak terlihat seperti orang Rusia atau Eropa Timur pada umumnya.

Setelah pria itu duduk, saya mengajak berbicara dia. Saya bertanya dari mana asalnya. Jawabannya bikin saya terkejut.

"Saya orang Moskow," jawab dia lalu tersenyum. Semua hipotesis awal saya gagal.

Dia balik bertanya soal asal saya. Tentu saya jawab Indonesia. "Oh Indonesia. Raja Ampat," seru dia.

Saya bertanya bagaimana dia tahu soal Raja Ampat. Dia bilang dia sering pergi ke sana.

"Dalam dua tahun terakhir saya sudah lima kali ke sana. Saya suka diving, free diving," tutur dia.

Kami kemudian berkenalan. Namanya Yaroslav. Usianya 44 tahun. Yaroslav bukan orang asli Moskow. Dia lahir dan besar di sebuah desa kecil jauh dari Moskow. Kini dia memasuki tahun ke-16 tinggal di Moskow.

"Saya suka Raja Ampat karena tempatnya tenang, alamnya bagus, dan kehidupan bawah lautnya sangat bagus. Saya suka sekali Raja Ampat," kata Yaroslav.

Dia mengakui waktu perjalanan menuju Raja Ampat tidak sedikit. Apalagi dia berangkat dari benua Eropa. Namun demikian, dia merasa perjalanan jauh itu terbayar begitu tiba di Raja Ampat.

Raja Ampat bukan satu-satunya tempat diving di Indonesia yang pernah dia kunjungi. Dia mengaku pernah ke Bunaken.

"Tapi di sana terlalu ramai. Saya jadi tidak bebas diving. Saya lebih suka Raja Ampat," tuturnya.

Pembicaraan kami kemudian berlanjut soal Piala Dunia 2018. Dia bercerita Piala Dunia 2018 memberikan pengaruh yang signifikan untuk Moskow dan Rusia. Satu dari sekian pengaruhnya adalah ekonomi.

"Tadi kamu beli air di kedai itu 150 ruble, kan? Kalau di toko swalayan biasa harganya hanya 30 ruble untuk merek yang sama. Sekarang semua orang memanfaatkan Piala Dunia untuk mendapatkan uang," kata Yaroslav.

Dia kemudian bercerita di Fan Shop Piala Dunia 2018 harga replika seragam tim nasional dipatok 5000 ruble, setara Rp 1,2 juta. Menurut Yaroslav, di area pinggiran kota ada yang menjual barang yang hampir sama seharga 500 ruble.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved