Selasa, 14 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Presiden Kolombia yang Baru Ingin Buka Kedutaan di Yerusalem

Presiden Kolombia yang baru terpilih, Ivan Duque, pernah mengatakan akan memindahkan kedutaan besar ke Yerusalem.

Editor: Fernando_Lumowa
REUTERS/Andres Stapff
Presiden Kolombia yang baru terpilih, Ivan Duque, pernah mengatakan akan memindahkan kedutaan besar ke Yerusalem. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Presiden Kolombia yang baru terpilih, Ivan Duque, pernah mengatakan akan memindahkan kedutaan besar ke Yerusalem. Pemindahan kedutaan yang menjadi simbol pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel itu menjadikan Kolombia sebagai negara keempat di dunia, dan ketiga di Amerika Latin yang memindahkan kedutaannya.

Ivan Duque memenangkan pemilihan presiden (pilpres) di Kolombia dengan 54 persen suara, mengalahkan saingannya Gustavo Petro, yang memperoleh 41,7 persen. Dalam kampanye sebelum pilpres Duque mengatakan bahwa jika dia terpilih "mungkin akan memindahkan kedubes ke Yerusalem."

"Saya ingin mempertahankan hubungan sebaik mungkin dengan Israel," kata Duque seperti dilansir Times of Israel, Senin (18/6).

Pernyataan yang dilontarkan Duque di sebuah gereja setempat pada 16 Mei lalu itu mengundang tepuk tangan dari para pendukungnya. Di hari yang sama pada waktu itu, Guatemala memindahkan kedutaan ke Yerusalem, dua hari setelah Amerika Serikat. Seminggu kemudian, Paraguay menjadi negara ketiga yang memindahkan kedutaan ke Yerusalem.

Sebaliknya, pernyataan Duque mendapat reaksi keras dari lawan-lawannya, yang sebagian besar kandidat menolak untuk memindahkan kedutaan.

Meski begitu, di salah satu televisi lokal Kolombia, Duque menyampaikan klarifikasi dengan menyatakan bahwa dia mendukung solusi dua negara bagi penyelesaian konflik Israel-Palestina. Lebih jauh, Duque menyatakan dia ingin pemerintahnya berkontribusi dalam upaya perdamaian di Timur Tengah.

"Kolombia tidak boleh membangkitkan kebencian di Timur Tengah," kata Duque.

Lawan kampanye Duque, Gustavo Petro menjadi lawan vokal dari keputusan AS untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Dia menuduh tentara Israel membantai warga sipil Palestina di Jalur Gaza selama protes perbatasan terhadap pemindahan kedutaan pada 14 Mei.

Duque, 41, mantan ekonom dan senator, dianggap keras soal keamanan seperti mentornya, mantan Presiden Alvaro Uribe. Pada 2010 dan 2011, Duque bekerja sebagai asisten Uribe dalam penyelidikan PBB atas insiden armada Mavi Marmara tahun 2010, dimana tentara Israel bentrok dengan pengunjuk rasa Turki yang berusaha menghancurkan blokade Gaza. Dalam insiden itu aksi tentara Israel menewaskan 10 aktivis Turki.

Sepanjang kampanyenya, Duque dikatakan hanya akan menjadi boneka Uribe, yang secara konstitusional dilarang untuk maju mencalonkan diri menjadi presiden karena telah menjabat Kolombia dua periode.

Duque merupakan putra dari mantan gurbernur dan mentri energi. Teman-temanya mengatakan bahwa Duque ingin menjadi presiden sejak kecil. Ayah dari tiga anak ini telah melayani publik hampir dua dekade yang lalu sebagai penasihat untuk Mentri Keuangan Juan Manuel Santos, yang kemudian sukses menjadi Presiden Kolombia.

Duque kemudian pindah ke Washington, ia menghabiskan lebih dari satu dekade di Bank Pembangungan Inter-Amerika, pertama sebagai penasihat untuk tiga negara Andean dan kemudian sebagai kepala divisi budaya.

Duque diwariskan negara yang mempunyai hubungan yang baik dengan Israel. Di bawah pimpinan Presiden Juan Manuel Santos Kolombia telah menjadi salah satu teman terbaik Israel di Amerika Latin. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengunjungi negara itu selama terjadi masalah di Amerika Latin pada tahun 2017. Pada Oktober 2012, Santos mengatakan bahwa dunia harus mengakui Israel sebagai negara orang Yahudi.

"Ada hubungan yang kuat antara kedua negara. Kolombia adalah salah satu dari sedikit negara Amerika Latin yang tidak memilih mendukung 'Palestina' sebagai negara non-anggota di PBB beberapa tahun yang lalu," kata Arie M. Kacowicz dari Universitas Hebrew, seorang ahli di Amerika Latin, pada tahun llu.

Kolombia, yang memerangi pemberontakan yang dilakukan oleh FARC selama beberapa dekade hingga perjanjian damai yang ditandatangani pada tahun 2016, secara teratur membeli senjata Israel.

Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved