Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Inilah Tradisi Monuntul Simbol Kerukunan Umat Beragama di Kotamobagu

Pemerhati Budaya Mongondow, Chairun Mokoginta mengatakan Tradisi Monuntul di Kotamobagu dijadikan simbol kerukunan antar umat beragama

Penulis: | Editor:
TRIBUNMANADO/VENDI LERA
Pemerhati Budaya Mongondow, Chairun Mokoginta 

Laporan Wartawan Tribun Manado Vendi Lera

KOTAMOBAGU,TRIBUNMANADO.CO.ID - Tradisi Monuntul di Kotamobagu, dijadikan simbol kerukunan antar umat beragama.

Tradisi Monuntul biasanya dilakukan umat muslim dalam menyambut hari kemenangan atau Idul Fitri.

Di Kotamobagu, tradisi ini bukan hanya dilakukan umat Muslim, namun non Muslim mengelar tradisi Monuntul.

Tradisi Monuntul di Kotamobagu,
Tradisi Monuntul di Kotamobagu, (TRIBUNMANADO/VENDI LERA)

Satu diantaranya Kelurahan Tumobui, yang mayoritas warganya umat Kristen, melaksanakan tradisi Monuntul (malam pasang lampu) menyambut Idulfitri.

Pemerhati Budaya Mongondow, Chairun Mokoginta mengatakan, Monuntul berasal dari kata tuntul yang berarti alat penerangan.

Tradisi ini biasa disebut malam pasang lampu yang dilakukan selama tiga malam berturut-turut dan akan berakhir saat malam takbir. Jadi Monuntul diartikan memberi penerangan.

Monuntul dilaksanakan untuk menyambut perayaan Idulfitri dan kemenangan atas umat muslin yang telah berpuasa selama satu bulan.

Kata Chairun, tradisi ini bisa dilihat dari dua perspektif kebudayaan dan agama. Memang dari tuntunan agama, tradisi ini tidak ada. Hanya saja kegiatan ini dikaitkan dengan malam Lailatul Qadar yang dijanjikan pada satu malam di 10 terkahir Ramadan.

Chairun menjelaskan, tradisi ini masih terus dipertahankan secara turun temurun, sejak dari penyebaran agama Muslim di Bolaang Mongondow.

Menurutnya, warga Mongondow percaya bahwa cahaya merupakan sumber kehidupan. Memasang lampu sama dengan memberikan cahaya penerang dalam kehidupan.

Dulunya lampu yang dipakai di tradisi Monuntul mengunakan lampu dari bambu kecil dengan bahan bakar dari minyak kelapa. Atau terbuat dari damar. Berlangsungnya waktu masyarakat membuatnya dari botol kecil dengan bahan bakar minyak tanah.

"Perubahan itu hal wajar. Yang penting tidak merubah makna dari tradisi Monuntul tersebut," kata Chairun.

Tradisi tersebut juga membawa dampak ekonomi bagi sejumlah warga. Seperti Nadya Kairupan, warga Kelurahan Kotamobagu, yang membuat dan menjual lampu botol untuk Monuntul. Bersama beberapa keluarganya dia menjual lampu-lampu tersebut di Jalan Datoe Binangkang dengan harga Rp 3000 per buah.

"Kalau mendekati pemasangan lampu, bisa mendapatkan Rp 200 ribu per hari. Bulan ini kami membuat 1000 lampu," kata dia yang berjualan bersama dua saudaranya, Rini Dimpudus dan Joshua Gani.

Ia menambahkan, jualan lampu ini, sudah sejak turun temurun dari orang tua. 

Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved