Rabu, 22 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

GEMPAR! Asosiasi Dokter Jerman Sebut Puasa Berbahaya Bagi Anak, ini Alasannya

Para dokter di Jerman meminta para orang tua muslim tidak mendorong anak-anaknya untuk berpuasa selama bulan Ramadhan.

Editor:
KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG
Warga berbuka puasa bersama di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat (18/5/2018). Pengurus Masjid Istiqlal setiap hari menyiapkan 4.000 nasi bungkus dan takjil untuk berbuka puasa selama Ramadhan. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Para dokter di Jerman meminta para orang tua muslim tidak mendorong anak-anaknya untuk berpuasa selama bulan Ramadhan.

Asosiasi Profesional Dokter Anak di Jerman lebih menganjurkan orang tua untuk menjelaskan kepada anak-anak betapa "tidak sehatnya puasa bagi mereka".

"Pastikan anak dan remaja Anda minum yang cukup. Juga pada siang hari," kata pernyataan yang dikutip media Jerman, Deutsche Welle.

Puasa Lebih Lama

Tahun ini, bulan Ramadhan bertepatan dengan panjangnya hari pada awal musim panas. Ini berarti orang di Eropa akan berpuasa selama sekitar 18 jam sehari.

Bulan Ramadhan, yang waktunya bergeser-geser mengikuti pergerakan bulan, diperingati oleh jutaan muslim di berbagai belahan dunia.

Mereka berpuasa dari makanan dan minuman sejak terbit matahari hingga terbenam selama 30 hari.

Waktu yang cukup lama untuk tidak makan dan minum inilah yang ditakutkan mempengaruhi performa anak di sekolah.

Dampak Puasa Bagi Anak

Anak-anak beragama Islam diwajibkan memulai puasa setelah mencapai akil balig (pubertas), biasanya pada usia 14 tahun.

Anak berusia lebih muda sebenarnya tidak diwajibkan berpuasa, namun para dokter anak di Jerman mengatakan banyak anak yang didorong untuk melakukannya.

Dengan Ramadhan tahun ini yang jatuh pada "pekan-pekan terpenting di masa sekolah", mereka memperingatkan bahwa puasa, terutama tidak minum, bisa berdampak buruk terhadap performa anak di sekolah.

"Kami selalu menemukan anak-anak yang pucat dan tidak fokus selama Ramadhan," kata para dokter.

Beberapa siswa langsung menemui mereka seusai sekolah, kata mereka, setelah pingsan karena "sakit kepala atau sakit perut yang parah".

Bukan Hanya Dokter

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved