Pelemahan Rupiah hanya Sementara, Begini Kata Ekonom
Pelemahan rupiah nyaris menyentuh Rp 14.000 per dollar Amerika Serikat (AS) tidak menggambarkan kondisi
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Pelemahan rupiah nyaris menyentuh Rp 14.000 per dollar Amerika Serikat (AS) tidak menggambarkan kondisi fundamental Indonesia.
Ekonom memproyeksikan pelemahan ini terjadi karena pengaruh sentimen eksternal dan hanya bersifat sementara.
Prediksi kenaikan suku bunga Federal Reserve yang lebih agresif membuat nilai tukar rupiah terhadap dollar AS melemah 2,48% sejak awal tahun menjadi Rp 13.891 per dollar AS, Kamis (26/2).
Jika rupiah terus melemah, BI tak sungkan sesuaikan suku bunga
Katarina Setiawan, Chief Economist & Investment Strategist Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) mengatakan, fundamental Indonesia kuat.
Baca: Mata Uang Global Tertekan: Rupiah Cari Keseimbangan Baru, Ini Penjelasan BI
Hal ini terlihat dari data cadangan devisa yang masih cukup untuk menjaga kestabilan rupiah.
Katarina mengatakan jika dibandingkan cadangan devisa di 2013 yang sempat turun Rp 7 triliun, kini cadangan devisa per Maret hanya turun Rp 3,9 triliun.
Bahkan, pada Januari 2018 cadangan devisa Indonesia sempat mencapai rekor di posisi US$ 131,98 miliar. "Pelemahan rupiah saat ini hanya temporary saja, dari Bank Indonesia (BI) pun sudah komitmen akan terus menjaga rupiah," kata Katarina, Kamis (26/4).
Berbagai kebijakan pemerintah kini juga dibuat untuk mendukung kestabilan rupiah. Antara lain, BI mewajibkan korporasi untuk hedging dan mewajibkan segala transaksi di Indonesia harus menggunakan rupiah.
Dengan kewajiban ini, maka permintaan dollar AS bisa menyeluruh tidak hanya tinggi saat pembagian dividen dan utang jatuh tempo.
Katarina pun optimistis kondisi fundamental Indonesia yang kuat membuat Indonesia jauh lebih siap menghadapi goncangan faktor eksternal.
Kekuatan fundamental Indonesia didorong oleh pemulihan ekonomi yang masih berlanjut.
Ini terlihat dari realisasi belanja pemerintah atau anggaran sosial melonjak 171% pada Januari ke Februari 2018. Tentunya ini baik untuk mendorong daya beli masyarakat.
Dari penerimaan pajak juga membawa kabar baik, karena target penerimaan pajak realisasinya naik 17,6% hingga 3 Maret 2018. Katarina juga menyebut di kuartal I 2018 NPL sejumlah bank mulai turun.
Hal tersebut menunjukkan fundamental Indonesia baik para perusahaan tidak mengalami krisis sehingga bisa bayar utang.
Perbaikan permintaan sejak Maret 2018 mulai naik di sektor konsumsi. Inflasi inti mulai naik dan Katarina mengharapkan hal ini bisa berlanjut dan semakin menguatkan fundamental Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/dollar_20180128_172822.jpg)