Wall Street Terjun Bebas: Surat Utang AS Kian Meroket
Perusahaan-perusahaan terkemuka memperingatkan perihal biaya dana yang lebih tinggi ketika imbal hasil (yield) surat utang Amerika Serikat (AS)
TRIBUNMANADO.CO.ID, NEW YORK - Harga saham-saham di Wall Street merosot tajam pada Selasa (24 April 2018).
Perusahaan-perusahaan terkemuka memperingatkan perihal biaya dana yang lebih tinggi ketika imbal hasil (yield) surat utang Amerika Serikat (AS) Treasury 10 tahun menembus level 3% untuk pertama kali dalam empat tahun.
Indeks S&P 500 dan Dow Jonos jatuh ke titik terdalam selama dua setengah minggu terakhir. Dengan penurunan terakhir ini, berarti Dow Jones Industrial Average sudah turun selama lima hari kelima berturut-turut. Indeks S&P 500 sudah jatuh 1,5% terhitung sejak awal tahun 2018.
Kepemilikan China atas surat utang pemerintah AS meningkat Februari lalu
Imbah hasil Treasury 10 tahun yang menjadi patokan biaya pinjaman global, terus menanjak oleh kombinasi kekhawatiran atas inflasi, meningkatnya pasokan utang, dan meningkatnya bunga Federal Reserve.
"Ini membuat biaya pinjaman lebih mahal bagi perusahaan. Padahal, reli pasar yang berlangsung selama sembilan tahun terakhir didorong oleh suku bunga rendah, mengakomodasi kebijakan moneter dan kelebihan likuiditas," kata Oliver Pursche, Kepala Strategi Pasar untuk Bruderman Asset Management di New York.
Imbal hasil obligasi yang lebih tinggi juga dapat mendorong manajer portofolio memandang efek-efek pendapatan tetap lebih ketimbang saham.
Pasar saham sudah ketakutan oleh kenaikan imbal hasil obligasi pada awal tahun yang melonjak tajam pada Februari lalu.
"Kami melihat beberapa angka pendapatan emiten yang telah terbit, dan setelah ditinjau lebih lanjut, investor menyadari darimana semua pendapatan ini berasal," kata Paul Nolte, manajer portofolio di Kingsview Asset Management di Chicago.
"Mereka tidak melihatnya sebagai pendapatan berulang atau cerminan kinerja bisnis inti."
"Saya pikir apa yang diharapkan para investor, manfaat dari pajak akan dikembalikan ke perusahaan. Itu tidak terjadi," kata Nolte.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 424,56 poin (-1,74%) menjadi 24.024,13. Indeks S&P 500 kehilangan 35,73 poin (-1,34%) menjadi 2.634,56. Adapun Nasdaq Composite turun 121,25 poin (-1,7%) menjadi 7.007,35.
Wall Street melorot akibat tekanan saham Apple dan Philip Morris
Indeks saham Wall Street berguguran pada perdagangan Kamis (19/4). Dow Jones Industrial Average turun 0,34% ke 24.664,89.
Indeks S&P turun 0,57% ke 2.693,13. Nasdaq Composite turun 0,78% ke 7.238,06.
Sektor barang konsumer menjadi salah satu pemberat bursa. Penurunan dipicu oleh harga saham Philip Morris yang merosot 15,6%. Harga saham Altria, induk usaha Philip Morris USA turun 6%.
Emiten konsumer lainnya, Procter & Gamble, mencatat penurunan harga saham hingga 3,3% setelah mengumumkan persediaan yang turun serta susutnya margin karena kenaikan harga komoditas dan biaya transportasi.
Di sisi lain, peringatan dari Taiwan Semiconductor, produsen cip dan pemasok Apple yang mengatakan bahwa permintaan smartphone tumbuh tipis tahun ini, menjadi pemberat saham Apple.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ekspresi_20180425_170640.jpg)