Cerita Kusir Bendi yang Tetap Bertahan di Kawasan Pecinan Manado
dua diantara para kusir bendi yang tetap bertahan menggeluti profesi tersebut di Manado
Penulis: Chintya Rantung | Editor: Aldi Ponge
TRIBUNMANADO.CO.ID -- Sonny Longkutoy (48) warga Teling dan Midun Bu (53) warga Perkamil merupakan dua diantara para kusir bendi yang tetap bertahan menggeluti profesi tersebut di Manado
Keberadaan alat transportasi bendi yang kian hari tidak dimanfaatkan sebagian besar masyarakat. Namun kondisi itu, tak mengurung niat mereka untuk tetap bertahan hidup dengan menjadi kusir bendi.
Kedua pria ini yang setiap harinya mangkal di seputaran kawasan pecinan, Manado.
"Kadang di samping rumah makan Yiet Yen (Jantung Hati) kalau sepi kami mangkal di diperempatan dekat toko obat cina Tek Ho Long," kata Sonny Longkutoy pada Selasa (24/4/2018)
Katanya, sebagian besar warga yang menggunakan jasa mereka datang dengan barang belanjaan yang banyak.
"Untuk satu penumpang pun tidak menentu. Kalau barangnya banyak saya mintanya Rp 10 ribu. Tapi kalau tidak bawah banyak barang trus hanya sendiri saya mintanya Rp 5 ribu saja," tambah Midun Bu.
"Mangkal disini bukan hanya kami berdua tapi kadang ada 4 sampai lima bendi. Jadi kami harus jalur. Siapa yang duluan mangkal dialah yang lebih dulu ambil penumpang," ungkap Midun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/bendi_20180424_180449.jpg)