Selasa, 14 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Elektabilitas Jokowi dan Prabowo Menurun, AHY-Gatot-Anies Malah Naik

Lembaga Survei Median menyebut elektabilitas dua kandidat calon presiden terkuat di Pemilu 2019.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNNEWS / DANY PERMANA
Presiden Republik Indonesia terpilih Joko Widodo mengunjungi Ketua Umum Partai Gerindra yang juga mantan pesaingnya dalam Pilpres lalu, Prabowo Subianto, di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Jumat (17/10/2014). Dalam pertemuan tersebut Jokowi bersilaturahmi dan mengundang Prabowo untuk menghadiri pelantikan Presiden Seni 20 Oktober mendatang. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Lembaga Survei Median menyebut elektabilitas dua kandidat calon presiden terkuat di Pemilu 2019 yaitu Joko Widodo dan Prabowo Subianto mengalami penurunan pada Februari 2018.

Median mencatat elektabilitas Jokowi menurun dari 36,2 persen dari bulan Oktober 2017 menjadi 35 persen di Februari 2018.

Sementara suara Prabowo juga mengalami penurunan dari 23,2 persen dari Oktober 2017 menjadi 21,2 persen di Februari 2018. Menurut Rico turunnya suara kedua sosok itu berpindah ke kandidat capres lain karena menginginkan adanya sosok alternatif.

Annisa Pohan (kanan) bersama Agus Yudhoyono dan si buah hati, Almira Tunggadewi.
Annisa Pohan (kanan) bersama Agus Yudhoyono dan si buah hati, Almira Tunggadewi. (Instagram)

Rico menyebut ada tiga tokoh yang mengalami kenaikan elektabilitas saat suara Jokowi dan Prabowo turun yaitu mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Gubernur Jakarta Anies Baswedan dan Ketua Tim Pemenangan Pemilu Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

"Sejak pensiun dari TNI, Pak Gatot mengalami peningkatan elektabilitas yang cukup signifikan yaitu dari 2,8 persen di bulan Oktober 2017 menjadi 5,5 persen di bulan ini. Sementara Anies Baswedan mengalami sedikit peningkatan dari 4,4 persen menjadi 4,5 persen."kata Rico.

"Dan AHY mengalami peningkatan elektabilitas dari di bawah 1 persen menjadi 3,3 persen karena sekarang dinilai makin matang dan semakin jelas menunjukkan visi serta misi di bidang politik," terang Rico Marbun.

Menurut Median ketiga sosok itu memiliki modal kuat untuk terus mendekati elektabilitas Jokowi dan Prabowo yang sampai sekarang masih terlihat seperti tak tersentuh kandidat lain.

Mantan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.
Mantan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo. (TRIBUNNEWS.COM/PUSPEN TNI/Kolonel Inf Bedali Harefa)

"Gatot Nurmantyo dipilih karena tegas (21,4 persen), berpihak pada umat Islam (14,3 persen), diperlakukan adil dan dipecat mendadak (10,6 persen), bijaksana (7,1 persen), dan memiliki mentalitas menjaga NKRI (7,1 persen). Sementara Anies Baswedan memiliki modal kepribadian baik (18,5 persen), baik kepemimpinannya (13 persen), peduli dan membantu rakyat kecil (11,1 persen), cerdas atau pintar (7,4 persen), dan gagah serta berwibawa (5,6 persen)."

"Dan AHY memiliki modal dipilih karena masih muda (17,9 persen), berasal dari militer (10,7 persen), dipengaruhi sosok Susilo Bambang Yudhoyono yang merupakan ayahnya (7,1 persen), sudah terkenal (3,6 persen), dan dianggap bisa menjaga stabilitas keamanan (3,6 persen)," pungkasnya.

Survei Median itu dilakukan pada 1.000 sampel dengan margin eror sekitar 3,1 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Publik Mulai Percaya AHY

Median juga mencatat elektabilitas Agus Harimurti Yudhoyono di bulan Februari 2018 mengalami peningkatan dari di bawah 1 persen menjadi 3,3 persen.

Rico Marbun mengatakan fakta tersebut menunjukkan kepercayaan masyarakat akan adanya regenerasi di tubuh Partai Demokrat dari Susilo Bambang Yudhoyono kepada putra sulungnya tersebut.

Bahkan elektabilitas AHY dalam survei Pilpres 2019 yang baru saja dirilis Media melebihi elektabilitas sang ayah yaitu 3,3 persen berbanding 1,2 persen.

Anies Baswedan
Anies Baswedan (-)

"Sebenarnya dalam dua survei sebelumnya menunjukkan SBY masih mendapat elektabilitas tinggi padahal beliau sudah dua kali terpilih sebagai Presiden, artinya pemilih belum bisa move on dari SBY. Namun setelah terjadi komunikasi dan sosialisasi politik yang cukup intens terutama tiba-tiba suara AHY meningkat dan menembus 10 besar yang berarti mulai ada regenerasi citra,"ujar Rico.

Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved