Minggu, 31 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Begini Jual Beli Mayat untuk Pratikum Mahasiswa, Pernah Menjadi Perbincangan di Unsrat

Penggunaan kadaver (mayat manusia yang telah diawetkan) sering kita dengar menjadi perbincangan di kalangan mahasiswa

Tayang:
Editor: Aswin_Lumintang
Ilustrasi 

TRIBUNMANADO.CO.ID, SEMARANG - Penggunaan kadaver (mayat manusia yang telah diawetkan) sering kita dengar menjadi perbincangan di kalangan mahasiswa, orangtua yang anaknya sekolah di Fakultas Kedokteran. Ini karena adanya kampus yang meminta uang dengan kepada mahasiswa dengan alasan untuk membeli kadaver.

Baca: Panitia Penjaringan Rektor Unsrat Gelar Rapat

Baca: UNBK Paket B dan C Kota Bitung Nanti April

Termasuk di Sulawesi Utara, tepatnya di Universitas Sam Ratulangi Manado, soal kadaver ini sempat menyeruak. Karena kabarnya di Unsrat dan universitas luar Jawa lebih sulit memperoleh kadaver. ''Kalau rumah sakit di Jawa biasanya lebih mudah memperoleh kadaver, '' ujar seorang alumni fakultas kedokteran di Makassar ini.

Kadaver (mayat manusia yang telah diawetkan) bukan istilah asing bagi Ali (nama samaran), meski ia tak berkuliah di fakultas kedokteran (FK). Ali saat ini masih menempuh perkuliahan di Fakultas Ilmu Keperawatan di sebuah kampus di Semarang.

"Mayat yang telah diawetkan dan dipakai untuk pembelajaran anatomi mahasiswa kedokteran atau sering disebut kadaver itu, informasinya harganya memang mahal," kata Ali.

Disampaikan, berdasarkan informasi yang beredar, harga satu kadaver bisa mencapai Rp10 juta-Rp 20 juta. Namun, saat disinggung dari mana dan bagaimana proses membeli kadaver tersebut, ia tak mengetahui secara pasti.

Ilustrasi
Ilustrasi (SHUTTERSTOCK)

"Kalau sejauh itu, saya tak tahu seluk-beluknya seperti apa," ucapnya. Menurut dia, mahasiswa kedokteran sudah menggunakan kadaver untuk proses pembelajaran anatomi. Pada tahap ini, katanya, kadaver sepenuhnya disediakan oleh kampus.

Sementara, untuk dokter yang menempuh koas (asisten dokter) maupun yang sedang menempuh pendidikan spesialisasi, mereka harus menyediakan kadaver sendiri. Memang, tidak secara individu, melainkan urunan atau patungan untuk digunakan satu kelompok.

"Satu kelompok berisi antara enam-sepuluh orang," ucapnya.

Hal berbeda disampaikan oleh Sammy (nama samaran) mahasiswa Fakultas Kedokteran Unissula angkatan tahun 2000. Saat ini, ia telah menjadi seorang dokter dan berpraktik di sebuah klinik. Sammy juga praktik mandiri di kediamannya, di wilayah Kota Semarang.

"Kita nggak pernah beli-beli atau menyediakan mayat sendiri, memang ada mata perkuliahan yang menggunakan kadaver," katanya.

Disampaikan, selama duduk di bangku kuliah, hanya ada satu mata kuliah yang membutuhkan kadaver untuk alat peraga yakni, mata kuliah anatomi 2, yang ditempuh pada semester kedua.

"Saat itu pun kita tidak melakukan pembedahan apa pun terhadap kadaver. Kita hanya mencocokkan anatomi kadaver dengan buku atlas anatomi," terangnya.

Menurut dia, saat mencocokkan dengan anatomi tubuh manusia asli dengan atlas, mahasiswa diperbolehkan memegang kadaver secara langsung. "Hanya sebatas memegang, kalau yang membedah-bedah itu yang boleh dosen," ucapnya.

Diakui, mata kuliah anatomi 2 merupakan mata kuliah yang sulit. Karena itu, ia bahkan harus mengulang selama sembilan kali mata kuliah tersebut.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved