Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Waspada! Ini Efek Super Blue Blood Moon, Simak Penjelasannya

Fenomena gerhana bulan total ‘Super Blue Blood Moon’ malam ini patut diwaspadai oleh masyarakat Indonesia.

Editor: Alexander Pattyranie
INTERNET
ilustrasi gerhana bulan 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Gabungan tiga fenomen alam akan memanjakan mata masyarakat.

Fenomena gerhana bulan total ‘Super Blue Blood Moon’ malam ini dikatakan akan dapat dilihat jelas oleh masyarakat Indonesia.

Fenomena gerhana bulan langka akan terjadi pada 31 Januari dan akan berlangsung selama 5 jam 20,2 menit, tepatnya dari pukul 17.49 WIB hingga 23.09 WIB.

Proses gerhana ini akan dapat diamati dari Indonesia secara jelas.

Gerhana bulan
Gerhana bulan

Meski demikian, keindahan bulan malam itu patut diwaspadai.

Khususnya untuk transportasi di pelabuhan dan pesisir, serta aktivitas pertanian yang dapat terganggu.

Melansir dari Kompas.com, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati berkata bahwa posisi bumi yang berada segaris dengan matahari dan bulan mengakibatkan gravitasi bulan dan matahari terintegrasi.

Akibatnya pasang air laut menjadi maksimal.

"Pasang air laut mencapai 1,5 meter, meski juga dapat terjadi air laut surut 100 sampai 110 sentimeter pada tanggal 30 Januari hingga 1 Februari 2018," kata Dwikorita di kompleks gedung BMKG, Jakarta, Senin (29/1/2018).

Perubahan muka air laut tersebut akan terjadi di sejumlah tempat.

Antara lain di Sumatera Utara, Sumatera Barat, selatan Lampung, utara Jakarta, utara Jawa Tengah, utara Jawa Timur, dan Kalimantan Barat.

"Kami minta untuk diwaspadai karena fenomena super blue blood moon dapat mengganggu transportasi akibat adanya rob atau pasang maksimum, dan juga dapat mengganggu aktivitas petani garam, perikanan darat serta kegitan bongkar muat di pelabuhan," jelas Dwikorita.

Selain itu, perkiraan cuaca BMKG mendapati adanya potensi hujan sedang hingga lebat sejak Senin (29/1/2018) hingga Sabtu (3/1/2018) di 21 Provinsi di Indonesia.

Hal ini terjadi karena selisih tekanan udara antara darata Asia dan Australia.

Tekanan udara tinggi yang ada di belahan bumi utara seperti di daratan Asia akan bergerak menuju Australia.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved