Sabtu, 18 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kisah Pelabuhan Kema, Dulu Disinggahi Saudagar dari Berbagai Negara, Kini Sepi . . .

Kala itu, pelabuhan kema selalu ramai dengan kapal dari berbagai benua. Saudagar asing dari Portugis, Spanyol, Cina, Arab, Yaman, Belanda serta Jepang

Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Aldi Ponge
TRIBUNMANADO/ARTHUR ROMPIS
Pelabuhan Kema, Minahasa Utara pada Kamis (19/1/2018) 

TRIBUNMANADO.CO.ID, AIRMADIDI - Pelelangan Kema, begitu tempat itu disebut, tampak sepi pada  Kamis  (18/1/2017) sore.

Hanya ada beberapa orang yang terlihat,  agaknya nelayan dan tukang tibo - bergerombol di suatu bangunan.

Pantai Firdaus yang berada ratusan meter dari situ sunyi pula.

Sunyi menjalar ke perkampungan sekitar pantai.

Sunyi dan sepi, dua hal itu tak pernah terjadi beberapa abad lalu.

Kala itu, pelabuhan kema selalu ramai dengan kapal dari berbagai benua.

Saudagar asing dari Portugis, Spanyol, Cina, Arab, Yaman, Belanda serta Jepang lalu lalang di perkampungan itu.

Berdagang, menyebarkan ajaran agama hingga kawin mawin dengan penduduk setempat.

Pelabuhan Kema dulunya adalah pelabuhan utama di Sulut.

Jaraknya yang dekat dengan Maluku, surga rempah - rempah dunia kala itu, membuatnya jadi tempat transit kapal para penakluk dunia.

Sejarawan Unsrat, Ivan Kaunang mengatakan, Kema awalnya adalah tempat singgah kapal kala dilanda cuaca buruk.

Lama kelamaan, Kema lebih dari sekedar tempat transit.

Kema jadi pelabuhan utama.

"Portugis dan Spanyol pada abad 16 dan 17 memperebutkan Kema," kata dia.

Ismet Jailani salah satu tokoh masyarakat Kema mengatakan, Kema dulu bukan sekedar pelabuhan.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved