Breaking News
Jumat, 10 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Harga Beras Naik, Padahal Pemprov Klaim Produksi Beras Melimpah

Jumlah produksi juga sejalan dengan peningkatan luas lahan sawah. Pemerintah memang tengah gencar menjalankan program cetak sawah.

Penulis: Ryo_Noor | Editor: Aldi Ponge

TRIBUNMANADO.CO.ID - Produksi gabah kering Provinsi Sulut tiga tahun terakhir ini terus naik.

Jumlah produksi juga sejalan dengan peningkatan luas lahan sawah. Pemerintah memang tengah gencar menjalankan program cetak sawah.

Yandri Lolong, Pengolah Data Statistik Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Peternakan menjelaskan, sesuai batas angka ramalan Produksi gabah kering giling 2017 sesuai pembahasan BPS dan Kementan RI yakni 731.843 ton.

"Dari jumlah ini diperkirakan 65 persennya dikonversi dari gabah kering menjadi beras," ujarnya.

Dari angka itu maka produksi beras Sulut diperkirakan mencapai 475.697 ton.

Jika menyimak data  produksi gabah kering giling memang ada kenaikan tiga tahun terakhir. 

Di 2016 mencapai 678.151 ton, sementara di 2015, mencapai 674.169 ton

Produksi juga ditunjang dengan peningkatan
Luas lahan sawah Sulut tahun 2015 diperkirakan 57.000 ha lebih, meningkat di tahun 2017 mencapai 62,358 ha.

Apalagi kata Yandri Pemerintah sedang menggenjot program cetak sawah di seluruh Indonesia.

Penambahan lahan sawah pun cukup signifikan di Sulut sejak bergulir 2015 silam, tiap tahunnya 1000 ha lebih lahan sawah bertambah.

Dari jumlah lahan sawah di Sulut, 50 persennya berada di Kabupaten Bolaang Mongondow, tak salah jika Bolmong memang disebut lumbung beras Sulut.

"Di Minahasa luas sawah sekitar 7000 ha, lalu di Bolmut 5000 ha. Ada juga tersebar di daerah lain, tapi yang terbesar di Bolmong," ujarnya.
Produksi beras Sulut terus meningkat karena disebabkan sejumlah faktor.

Kenaikan dari 2016 ke 2017 paling mempengaruhi yakni faktor iklim. Curah hujan tinggi di tahun ini, ditambah pemerintah terus meningkatkan program irigasi serta bantuan untuk petani demi meningkatkan produktifitas.

Meski begitu tak lepas juga dari faktor membuat gagal panen, tapi kata Yandri tak terlalu signifikan mempengaruhi secara keseluruhan.

"Istilahnya Puso , bisa karena bencana seperti  banjir atau hama tapi relatif  kecil hanya 157 hektare,"kata dia.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved