Jumat, 17 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Umat Muslim dan Kristen di Yerusalem Bersatu Menentang Israel

Kehidupan di Yerusalem, yang diakui Donald Trump sebagai ibu kota Israel, "sangat berat" namun umat Islam dan Kristen Palestina bersatu

Editor: Aldi Ponge
Thinkstock
Kota Yerusalem. 

Sebelum pernyataan Trump sekalipun, kehidupan di Yerusalem, cerita Abeer sudah sulit dan penuh ketidakpastian.

"Sangat berat (kehidupan di sini), berlaku sistem apartheid, kami bisa dibunuh, diculik, diserang dan polisi merupakan bagian dari ini, mereka tidak mencoba membantu atau mencegah. Mereka bagian dari penyerangan. Mereka bisa menciduk Anda dari rumah Anda. Hidup kami seperti ini," tambahnya.

Setiap hari Abeer meninggalkan rumah pukul tujuh pagi dan mengantarkan empat putrinya ke sekolah yang hanya berjarak dua kilometer dari kediamannya.

Perjalanan mengantar anak ke sekolah hanya memakan waktu lima menit pada situasi normal, namun kondisi tak pernah bisa diprediksi.

"Mereka menutup jalan dan akibatnya pernah sampai kami tak boleh keluar rumah. Ada hari saat ada orang yang diserang, anak muda digeledah dan disuruh membuka baju, dipermalukan, diberhentikan di pos pemeriksaan, dan menunggu tanpa alasan jelas," kata Abeer.

"Pernah kami menunggu di pos pemeriksaan karena seorang tentara perempuan sedang membersihkan kuku dan kami harus menunggu sampai kuteksnya kering."

"Setiap saat harus ada rencana lain, kami juga melatih anak-anak supaya bisa melindungi diri."

Seorang wartawan The New York Times David Halbfinger yang menyusuri Yerusalem mengutip seorang warga Tomer Aser (35).

"Kami semua percaya ada sesuatu yang suci di kota ini, namun terlalu sulit," kata Aser.

"Rasanya seperti tinggal di penjara di sini. Orang sangat tegang. Dan rasanya terpisah. Anda harus tinggal dengan komunitas Israel atau komunitas Arab," katanya.

Halbfinger juga menulis, "Di satu jalan kecil menuju daerah Muslim, tiba-tiba muncul keributan. Pemukim Yahudi dari atap melempar telur ke arah warga Arab (Palestina) di bawah." 

"Tiba-tiba terjadi saling injak. Tiga polisi perbatasan Israel dengan helm anti huru-hara lari mengejar seseorang. Tak lama kemudian pengejaran berakhir. Saat polisi selesai mengejar, seorang perempuan berteriak dalam bahasa Arab dan polisi menjawab makian."

Abeer Zayaab sendiri pernah ditahan setelah sebelumnya dipukul, dilepas jilbabnya dan dijambak pada 2014.

Tanpa ada alasan, saat ia tengah berjalan, tentara memukul leher dan kaki Abeer lalu menarik jilbabnya.

"Mereka menuduh saya menyerang tentara padahal saya tak berbuat apa pun dan saya sedang berjalan saat mereka menyerang saya. Mereka pukul leher dan kaki saya sampai terjatuh, dan tentara perempuan menyeret saya... saya dipukul dan ditendang dan diseret di jalan dan di tangga. Jilbab saya dilepas dan saya dijambak," cerita Abeer.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved