Upaya Merawat Kerukunan, GCDS Gelar Seminar Kebangsaan dan Festival Keragaman

GCDS menggagas diskusi yang mengangkat peran Pancasila serta agama-agama termasuk penghayat kepercayaan

Upaya Merawat Kerukunan, GCDS Gelar Seminar Kebangsaan dan Festival Keragaman
FOTOGRAFER TRIBUN MANADO/ANDREAS GERALD RUAUW
Tokoh lintas agama doa bersama pada acara Festival Keragaman di Kantor DPRD Sulut, Sabtu (10/12/2016). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Untuk mendiskusikan dan menegaskan ulang makna dan peran Pancasila serta agama-agama termasuk penghayat kepercayaan dalam merespon masalah-masalah kemanusiaan, Gerakan Cinta Damai Sulut (GCDS) menghelat dua event.

Seminar kebangsaan dan festival keragaman yang dilaksakan di kampus Unsrat Manado, Jumat – Sabtu (08 –
09/12/2017).

“Dua kegiatan ini juga sekaligus untuk memantapkan peran masyarakat sipil lintas agama dan etnis serta identitas gender di Sulawesi Utara, baik secara ideologis maupun secara praksis dalam upaya partisipasi
memperjuangkan perdamaian dan keadilan,”ungkap Ketua Panitia Seminar Kebangsaan dan Festival Keragaman, Jull Takaliuang , Selasa (05/12/2017).

Jull mengungkapkan, untuk Seminar Kebangsaan dilaksanakan pada Jumar 8 Desember 2017 bertempat di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsrat. “Tampil sebagai keynote speaker adalah Yudie Latif, Ketua Unit Kerja
Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila atau UKP PIP,” ujar Jull.

Selain Yudie Latif, akan tampil sebagai pembicara adalah Pdt Dr Nico Gara MA (rohaniwan Kristen), Nia Sjarifudin dari UKP PIP, Zuhairi Misrawi dari Intelektual Muda Nahdlatul Ulama, dan H Abdul Basith Shd yang adalah Amir Nasional Jemaat Ahmadiyah Indonesia.

“Denni Pinontoan, Dosen UKIT YPTK juga akan tampil menyampaikan refleksi keberagaman di Sulawesi Utara,” tandas Jull.

Peserta Seminar Kebangsaan adalah komunitas-komunitas yang tergabung dalam GCDS, mahasiswa, dosen, tokoh-tokoh agama dan pemerintah.

Kegiatan berikutnya yang dilaksanakan oleh GCDS adalah festival keragaman. “Dalam kegiatan ini akan ada penampilan seni dan budaya lintas etnis, gender serta agama. Termasuk doa oleh tokoh-tokoh agama
dan penghayat kepercayaan,” ujar Jull.

Partisipan dalam Festival Keragaman adalah komunitas-komunitas yang tergabung dalam GCDS dan undangan.
GCDS adalah wadah komunikasi dan kerjasama kelompok-kelompok masyarakat sipil yang beragam agama, etnis dan identitas gender di Sulawesi Utara yang dideklarasikan pada 10 Desember 2016.

Partisipan dalam GDCS terdiri dari puluhan lembaga swadaya masyarakat, organisasi profesi jurnalis, komunitas agama, adat/budaya, lembaga pendidikan tinggi dan juga individu-individu tertentu yang peduli pada upaya-upaya memperjuangkan keadilan dan perdamaian.

Lembaga tersebut antara lain, GP Ansor, Lesbumi Sulut, AJI Manado, Peruati, Swara Parangpuan, Mawale Movement, Pemuda Katolik, Ingagers Manado, Peradah Sulut, Pemuda Konghucu, Jemaat Ahmadiyah Indonesia,
Telu, Yayasan Suara Nurani Minaesa, Sanubari Sulut, Komunitas Adat Malesung dan ABI Sulut

Editor: Fernando_Lumowa
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved