Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Desa Pomoman-Poigar Terisolasi, Begini Kodisinya

Warga Desa Pomoman, Kecamatan Poigar, Bolmong hadapi situasi sulit. Warga di sana harus melewati sungai delapan kali.

Penulis: Finneke | Editor: Lodie_Tombeg
tribun manado
Warga Pomoman, Kecamatan Poigar, Bolmong harus melewati delapan kali Sungai Poigar untuk keluar menuju Poigar, Jumat (24/11/2017). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, LOLAK - Warga Desa Pomoman, Kecamatan Poigar, Bolmong hadapi situasi sulit. Warga di sana harus melewati sungai delapan kali tanpa jembatan agar bisa keluar dari desa.

Pantauan Tribun Manado di desa itu, terlihat seorang pria paruh baya baru saja memarkirkan motornya di warung di pinggir jalan Poigar.

Bukan lagi motor pada umumnya, namun sudah modifikasi.
Motor bermesin empat tak itu memiliki sok yang tinggi, dengan ban yang bergerigi. Sudah terlihat tua memang. Sepertinya, selain mesin, tak ada lagi yang original.

Motor pria ini dipasang pengangkut di belakangnya. Warga menyebut motor seperti ini, motor rambo. Artinya motor yang sudah biasa di medan berat sekalipun.

Adalah Ferdinan Karu, warga Desa Pomoman, Poigar. Wajar rupanya Ferdinan mengendarai motor rambo. Karena akses menuju desanya sangat jauh dari kata layak. Ada delapan sungai yang harus dilewati. Tak ada jembatan.

Warga bisa memaksakan naik motor biasa, namun harus terima risiko rusaknya motor. Mobil yang sampai ke desa ini hanya mobil berkekuatan besar, juga mobil rambo tentunya.

Selain lewat delapan sungai, jalanan tanah berbatu, naik turun gunung akan dijumpai sepanjang jalan. Karena Desa Pomoman ada di wilayah pegunungan Poigar.

"Sudah biasa bawa motor begini. Sudah puluhan tahun bolak-balik dari desa ke jalan raya. Motor yang pas memang motor rambo begini. Kalau motor biasa, jangan harap banyak," ujar Ketua BPD Pomoman ini.
Malam sekalipun, warga Pomoman tak gentar. Meski tak ada penerangan sama sekali, selain lampu motor.

Namun kesusahan yang mereka alami selama 34 tahun, membuat mereka terbiasa.
Ya sejak 34 tahun desa transmigrasi ini berdiri, tak ada perubahan yang berarti, terutama soal jalan. Ada warga dari Tondano, Minahasa dan warga asli Bolmong lainnya yang bertransmigrasi di desa ini, tahun 1983.

Warga menderita dan merintih. Mereka merasa dilupakan. Padahal ada 160 kepala keluarga dengan 339 jiwa yang tinggal di desa ini. "Kami tetap merayakan acara 17 Agustus," ujar Iskandar Mokoginta, Kepala Dusun II, Desa Pomoman.

Sementara masih jelas di ingatan Jemmy Lantu (49), bagaimana awal bermukim di Pomoman. Meluapnya air danau Tondano, mengharuskan Jemmy dan ratusan warga Tondano pindah di desa ini.
Jidat pria paruh baya ini mengernyit ketika mengingat-ingat kembali masa 34 tahun silam itu. Mereka harus jalan kaki sepanjang 12 kilometer dari jalan raya di Poigar, menuju desa yang berada di pegunungan ini.

Walangitan saat itu bahkan masih duduk sekolah dasar, waktu pindah ke desa ini, dari Tondano. Ia masih ingat betul tangisannya kala itu, saat pertama-tama tinggal di sini. Kondisi desa yang begitu menyakitkan untuk ukuran anak SD sepertinya.

Jika dulu tak ada transportasi sama sekali ke Desa Pomoman, sekarang banyak warga yang sudah punya kendaraan. Terutama motor. Kondisi motor di desa ini sudah dimodifikasi untuk medan berat.
Jasa ojek di desa ini pulang pergi Rp 100 ribu. Sementara untuk mobil, Rp 600 ribu pulang pergi. Bisa sekali jalan sebesar Rp 300 ribu. Biaya yang tak murah, tapi sepadan dengan medan yang harus dilalui.

Meski sama-sama melewati sungai, warga Desa Kanaan Kecamatan Dumoga, Bolmong masih lebih beruntung. Hanya satu sungai yang harus dilewati ke desa ini. Sungai di Desa Toruakat. Di situ pun ada jasa rakit. Warga sedikit terbantu.

Jalanan sepanjang sepuluh kilometer hingga ke desa, meski berkelok-kelok dan menanjak, sudah aspal. Warga sangat terbantu. Tanpa harus mobil atau motor rambo pun, warga sudah bisa tiba di desa ini. *

Sumber: Tribun Manado
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved