Menyayat Hati, Begini Kisah Ade Irma Suryani Nasution
"Papa...apa salah adek?" demikianlah kalimat yang tertulis di lukisan Ade Irma Suryani dengan latar belakang Jenderal Besar Abdul Haris Nasution
TRIBUNMANADO.CO.ID - Bocah kecil itu terkulai lemah dengan tubuh berdarah-darah.
Ia tak berdaya tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Tembakan itu telah merobek punggungnya hingga peluru menembus limpa.
Setelah enam hari dirawat, bocah kecil nan lucu itu pun menghembuskan nafas terakhir.
"Papa...apa salah adek?" demikianlah kalimat yang tertulis di lukisan Ade Irma Suryani dengan latar belakang Jenderal Besar Abdul Haris Nasution di Museum Jendral AH Nasution di Jl Teuku Umar 40 Menteng.
Ade Irma Suryani tak pernah memeroleh jawaban atas pertanyaan tersebut.
Nama Ade Irma Suryani Nasution memang tak bisa dipisahkan dalam peristiwa paling kelam sejarah Indonesia.
Ade Irma yang saat itu baru berusia 5 tahun, meninggal akibat tertembak peluru pasukan tjakrabirawa yang merangsek masuk ke dalam rumahnya untuk menangkap sang ayah.
Dalam peristiwa yang terjadi pada 1 Oktober 1965 sekitar pukul 03.45 tersebut, ajudan AH Nasution, Lettu Pierre Tendean juga ikut menjadi korban.
Ia diculik lalu dibunuh di Lubang Buaya.
AH Nasution yang selamat dalam peristiwa itu melukiskan perasaannya lewat sebaris kalimat yang tertulis di nisan Ade Irma.
"Anak Saja jang tertjinta. Engkau telah mendahului gugur sebagai perisai Ajahmu"
Apa yang sebenarnya terjadi saat itu?
Yanti Nurdin Nasution, anak pertama AH Nasution, menjelaskan detik-detik mencekam tersebut.
Sebagaimana dilansir laman Facebook Museum of Jenderal Besar Dr. AH. Nasution, berikut petikan kesaksiannya :
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ade-irma_20170922_202133.jpg)