Cerpen
Budayakan Menulis dan Membaca, Yuk Simak Cerpen; Pertemuan
Kugenggam erat-erat tangan itu, seakan aku tidak mau melepaskannya lagi, seakan ingin selalu berada di sisinya.Di Luar senja hampir genap
TRIBUNMANADO.CO.ID - Cerpen ; Pertemuan, Karya Muhammad Muis
1. Catatan dari Masa Silam
Di atas tempat tidur ia tergeletak tanpa daya dalam rintih kesakitan yang panjang. Ruang perawatan rumah sakit mendekapnya dalam kesunyian. Namun, dari kejauhan terdengar detak-detak sepatu para dokter, perawat, dan pengunjung yang berlalu lalang di lorong-lorong RS itu. Ketika melihatnya, aku terharu, sedih, dan prihatin. Rasa bersalah serta merta menikam sanubariku.
“Ya Allah.,” desahku dalam hati, “selamatkan dia..”
Ingatanku menerawang jauh. Lebih dari dua puluh tahun berlalu sudah. Begitu cepat rasanya waktu berlalu. Ketika itu aku masih SMA. Kami masih sangat muda dan kadang-kadang juga sedikit “gila”. Bolos, pura-pura lupa atau sengaja tidak membuat PR, dihukum guru karena berbagai hal, hingga-yang paling seru - mulai tertarik pada lawan jenis adalah rentetan contoh “kegilaan” kami. Sejujurnya, kalangan Hawa di sekolahku banyak yang cantik.
Kala itu ada seorang gadis yang terkenal di sekolahku. Selain cantik, ia cerdas dan jadi rebutan. Zakiah namanya. Aku amat menyukainya. Sebaliknya, ia sama sekali tidak memperlihatkan gelagat apa pun padaku! Tidak banyak gadis yang secantik dia.
Keterpesonaanku kepadanya bukan semata-mata pada kecantikannya, tetapi juga pada religiositasnya, keberagamaannya. Pikirku, aku ini terkenal badung, dan jika pacarku badung juga, kiamatlah dunia! Aku mengimpikan pacar yang akan kujadikan istri kelak. Teman-temanku pasti tertawa keras jika mereka tahu rencana itu.
Jarang kulihat gadis muda belia sealim Zakiah. Kendatipun saat itu kota kami hanyalah kota kecil, kawan-kawanku banyak yang bergaya seperti gadis-gadis kota dan mencontoh gaya hidup anak muda kota besar. Misalnya, mereka jarang salat dan senang menonton film di bioskop di kota. Rupa-rupanya pengaruh kuat media massa, terutama televisi dan film, sudah juga terasa pada kota kami.
Zakiah sering membawa mukena ke sekolah. Sering kulihat ia larut dalam doa yang panjang ketika bakda salat Zuhur jika aku kebetulan lewat di samping musala sekolah. Aku malu benar jika melihatnya seperti itu. Wajah itu begitu teduhnya, seteduh telaga, dan mengandung pesona, laksana pesona Cleopatra-si Ratu Mesir tempo dulu. Kedewasaan, pribadi, dan ketakwaannya itu amat memukau kami, terutama diriku.
Ia sering menolak secara halus jika diajak untuk ikut pesta ulang tahun atau menonton film layar tancap. Demikian juga jika ia diajak naik motor ketika akan berangkat atau pulang sekolah. Ia dan kawan-kawannya sering bersepeda ke sekolah. Teman-teman sering mengisengi mereka dengan berkata, “Awas betisnya nanti besar-besar bagai betis tukang becak Jakarta!” Kala itu, Jakarta hanya ada dalam angan kami. Jika mereka sedang bersepeda itulah aku sering menggodanya dari motorku. Ia biasanya hanya tersenyum, sedangkan kawan-kawannyanya bersuit-suit nakal. Tatkala naik motor seperti itu aku serasa seperti seorang Che Guevara-tokoh besar Revolusi Kuba. Aku serasa hebat, apalagi masa itu jarang sekali anak SMA bermotor ke sekolah.
Suatu kali Zakiah pernah bertanya banyak tentang aku kepada seorang teman akrabku. Aku kaget mendengar cerita itu. Hari itu ia benar-benar ingin tahu banyak tentangku. Itu mungkin karena surat-surat cintaku kepadanya yang tidak pernah berbalas. Salah satu pertanyaannya yang kuingat hingga kini adalah, “Apakah ia rajin salat?”
Teman karibku itu tidak menjawab. Ia tersenyum kecut dan serba salah hendak menjawab apa.
“Aku belum pernah melihat ia salat zuhur sekalipun di sekolah.,” ujar Zakiah.
“Mungkin di rumah,” jawab temanku, datar.
Zakiah hanya tersenyum, lalu menyambung, “Mudah-mudahan saja ia salat di rumah.”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/pisah_20170910_191424.jpg)