James Lontoh Beberkan Ekspor Ikan Tidak Seperti Dulu
James Lontoh, membeberkan kegiatan ekspor ikan di daerahnya tidak tidak lagi seperti yang dulu, Rabu (30/8).
Penulis: | Editor: Andrew_Pattymahu
Liputan Wartawan Tribun Manado, Felix Tendeken
TRIBUNMANADO.CO.ID, MOLIBAGU - Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), James Lontoh, membeberkan kegiatan ekspor ikan di daerahnya tidak tidak lagi seperti yang dulu, Rabu (30/8).
"Dulu ada kapal ikan langsung ekspor disini, tapi tidak sama lagi seperti seperti tahun 90 - an," kata dia.
Anggota legislatif dari Partai Gerindra ini menjelaskan, banyak faktor yang mempengaruhi jumlah tangkapan dan ekspor ikan mengalami penurunan.
Satu diantaranya adalah keterbatasan biaya pengusaha kapal pajeko seiring dengan peningkatan harga perangkat laut yang semakin mahal.
"Tali untuk mengikat rumpon dan pajeko saja satu kilo Rp 20 ribu, apalagi kalau mau buat rakit, satu unit harganya sampai Rp 50 juta," kata dia.
Ia pun merasa miris melihat pabrik ikan besar sekelas Kota Bitung mulai gulung tikar. Padahal kata dia, kehadiran pabrik tersebut akan mendukung pertumbuhan ekonomi rakyat.
"Sayang sekali kalau tutup," kata dia.
Di Bolsel sendiri menurut dia, belum ada dampak signigikan terhadap kebijakan - kebijakan yang dibuat oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pujiastuti.
Hanya saja sebagian nelayan merasa serbasalah dengan salah satu aturan melarang nelayan menggunakan soma dampar.
"Kami tidak bisa larang, ini berurusan dengan masalah isi perut. Kasihan kalau mereka sudah melihat ikan kemudian dilarang menangkap," kata dia.
Meski demikian, menurut dia, yang terjadi di luar daerah belum berdampak bagi Bolsel. Karena paling banyak nelayan dengan alat tangkap tradisional.
"Meski cuacanya ekstrim tapi produksi ikan masih bagus," tukasnya. (lix)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/james-lontoh_20170830_171517.jpg)