Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Ada Balap Karung hingga "Gatotkaca" Kalah Adu Tarik Tambang

Berbagai lomba digelar oleh Kerukunan Keluarga Jawa Peringati HUT ke-72 Kemerdekaan RI di Bitung

Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Aldi Ponge
TRIBUNMANADO/ANDREAS RUAUW
Atraksi tarian Reog Ponorogo dalam acara Kerukunan Keluarga Jawa (KKJ) Satya Bhakti Bitung, di Lapangan Perum Polres Bitung, Minggu (20/8/2017) siang 

Laporan Wartawan Tribun Manado Arthur Rompis

TRIBUNMANADO.CO.ID, BITUNG - Dimainkan empat anak kecil, bukan berarti tarian Reog Ponorogo itu kurang greget.

Seorang pria dewasa yang turut dalam tarian itu berulangkali mencambuk seorang penari cilik pria.

Tiada ekspresi kesakitan di wajah sang penari cilik. Malah ia membusungkan dadanya.

Warga yang memadati lapangan Polres Bitung Minggu (20/8/2017) dibuat bergidik, lantas terperanjat setelah mengetahui sang penari cilik adalah anak dari pria dewasa itu.

Namun secara keseluruhan warga terhibur dengan Tarian Reog yang dimainkan secara original itu.

Tarian asal Jawa Timur itu turut memeriahkan perayaan HUT ke ‑ 72 proklamasi RI  yang diselenggarakan Kerukunan Keluarga Jawa (KKJ) Satya Bhakti Bitung, Minggu (20/8/2017) siang di Lapangan Perum Polres Bitung.

Perayaan diisi dengan penampilan adat Jawa seperti Reog Ponorogo dan campur sari serta aneka lomba yakni balap karung, motor lambat, tarik tambang, makan kerupuk serta panjat pinang.

Hajatan tersebut jadi ajang silaturahmi antara ribuan warga Jawa yang ada di Bitung. Anak ‑ anak, remaja hingga orangtua nampak antusias mengikuti aneka lomba.

Tawa menjadi salah satu unsur pengikat tali silaturahmi. Saat berlangsung lomba tarik tambang, seorang pria berpakaian gatotkaca jadi salah satu peserta.

"Awas ada gatot kaca," kata pembawa acara. Namun gatot kaca ternyata loyo. Tim yang dibelanya  kalah hanya dalam hitungan detik.

"Payah gatotkaca," teriak sejumlah  warga yang disambut tawa hadirin. Tawa juga kerap terdengar dari arena motor lambat dan makan kerupuk.

"Kalau sudah gini rasanya seperti di Jawa saja," kata Sugiman seorang warga.

Sugiman mengaku sudah puluhan tahun berada di Bitung. Hajatan itu juga memperkokoh persatuan antara warga jawa dan suku suku lainnya di Bitung.

Kerap terdengar campuran logat Jawa dengan bahasa manado. "Tangan se turun ke bawah," kata seorang pembawa acara dengan logat jawa pada anak anak dalam lomba makan kerupuk.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved