Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kisah Perjuangan H Pontoh Turunkan Bendera Belanda 

Kemerdekaan yang diraih oleh bangsa Indonesia, bukanlah hadiah dari para penjajah.

Penulis: | Editor:
TRIBUNMANADO/WARSTEF ABISADA
Adegan saat warga Kaidipang tergeletak setelah melawan penjajah dalam drama perjuangan warga Bolmut meraih kemerdekaan 

Laporan wartawan Tribun Manado Warstef Abisada

TRIBUNMANADO.CO.ID, BOROKO -- Kemerdekaan yang diraih oleh bangsa Indonesia, bukanlah hadiah dari para penjajah. Tapi, merupakan hasil perjuangan seluruh rakyat diseluruh pelosok negeri, termasuk rakyat yang ada di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara.

Perjuangan rakyat Bolaang Mongondow Utara untuk melawan penjajah, dimulai tahun 1942.

Tiga tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI dikumandangkan oleh Presiden Soekarno, rakyat Bolaang Mongondow Utara yang ada di Kaidipang, telah melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda.

Perlawanan dimotori oleh H R Pontoh, dengan menurunkan bendera Belanda pada 23 November 1942 pukul 08.00 Wita.

H Pontoh kala itu, berperan sebagai Jogugu (raja) Kaidipang Beaar.

Ia berani merobek bendera Belanda yang berwarna biru, kemudian menaikkan bendera Merah Putih di depan Komalig Raja Kaidipang Besar, yang kini berada di depan Lapangan Kembar.

H Pontoh tak sendiri ketika melakukan aksi heroik tersebut. Ia dikawal oleh H L A Manda (Alm), H Daud (Alm), dan H Kaidua Bin Eda (kini berada di Jawa) dengan senjata lengkap milik warga Bolaang Mongondow Utara keturunan Cina/Arab.

Tentara Belanda ketika itu langaung meninggalkan wilayah Bolaang Mongondow Utara, menuju Gorontaloo dan Sulawesu Tengah.

Perjuangan H Pontoh melawan penjajah tak berhenti, setelah tentara Belanda pergi, hadir penjajah lainnya yakni tentara Jepang.

Tentara Jepang yang mendengar aksi H Pontoh menaikkan bendera Merah Putih, setelah mendarat di Manado, tak senang.

Mereka berangkat ke Kaidipang, dan menangkap H Pontoh kemudian mengasiangkannya di Tinoor, Kota Tomohon.

Kendati H Pontoh telah diasingkan, namun aksi heroik rakyat tak berhenti. Mereka tetap melakukan perlawanan, seperti pejuang lainnya termasuk Jenderal Sudirman, sehinggga kemerdekaan pun diraih, kendati kala itu ada yang masih menggunakan bambu runcing sebagai senjata.

Kapten Inf Supardi, Danramil Kaidipang mengatakan, aksi heroik para pejuang di daerah sengaja dipentaskan pihaknya bersama pelajar, TNI, dan Polri, untuk menumbuhkan semangat nasionalisme masyarakat, agar mau terus berjuang untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Dengan memahami sejarah perjuangan pejuang kemerdekaan, maka semangat nasionalisme kita tak akan luntur untuk menjaga NKRI," katanya.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved