Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tiga Penyebab Krisis Parah di Venezuela

Venezuela dikenal sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia.

Editor: Aldi Ponge
NET
Ribuan warga oposisi Pemerintahan Nicolas Maduro menggelar aksi di Caracas, Rabu (10/5). Gelombang aksi protes menuntut pemilihan presiden baru yang dipicu gejolak ekonomi di Venezuela telah berlangsung sejak sejak awal bulan lalu. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, BERLIN - Venezuela dikenal sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Namun, sejalan dengan harga minyak yang anjlok dan minimnya investasi di sektor energi, berkah itu malah jadi petaka bagi Venezuela.

Ketika sedang jaya-jayanya karena harga minyak perkasa, pemerintah Venezuela memberikan subsidi pangan, akses ke perguruan tinggi, hingga layanan kesehatan yang mumpuni bagi warganya.

Namun, semua itu kini tinggal kenangan. Mengutip Deutsche Welle, Kamis (3/8/2017), ada beberapa hal yang patut Anda ketahui terkait krisis ekonomi parah yang terjadi di Venezuela.

1. Kaya minyak, kenapa Venezuela bisa krisis?

Menurut data Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) tahun 2015, Venezuela terbukti memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia, yakni mencapai 300 miliar barrel.

Angka ini melampaui Arab Saudi (266 miliar barrel), Iran (158 miliar barrel), dan Irak (142 miliar barrel).

Ini membuat mantan Presiden mendiang Hugo Chavez menempatkan minyak sebagai jantung ekonomi negara itu.

Sekitar 90 persen ekspor dan separuh penerimaan negara Venezuela berasal dari minyak. Ketika harga minyak anjlok dari 115 dollar AS per barrel menjadi separuhnya pada tahun 2014, pertumbuhan ekonomi Venezuela anjlok 10 persen.

2. Industri minyak tanpa keahlian tak ada artinya

Harga minyak bukan satu-satunya penyebab krisis Venezuela saat ini. Faktor lainnya adalah kesalahan pengelolaan akibat terlalu meraup untung dari minyak.

Petróleos de Venezuela (PDVSA), BUMN minyak Venezuela, mengadakan unjuk rasa pada 2002, yang berujung pada PHK 18.000 pegawainya oleh Chavez.

Sejak saat itu, Chavez meminimalisir investasi infrastruktur minyak dan memaksimalkan kendali atas ladang minyak.

Produksi akhirnya turun tanpa adanya teknologi dari perusahaan asing, termasuk injeksi pasokan gas alam untuk mengelola minyak.

Tahun lalu, Venezuela mengimpor 50.000 barrel minyak mentah ringan untuk mempersiapkan minyak mentah pekat untuk diekspor.

3. Rusia dan China utangi Venezuela

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved