Kelompok Moderat Harus Berani Melawan
Bahkan di dunia pendidikan, paham ini telah berpenetrasi dari level terendah hingga ke Perguruan Tinggi.
TRIBUNMANADO.CO.ID-Penyebaran paham radikal di tanah air sudah sangat meluas. Bahkan di dunia pendidikan, paham ini telah berpenetrasi dari level terendah hingga ke Perguruan Tinggi.
Penyebaran ini kian masif dengan adanya sosial media. Karena itu, untuk menangkal paham radikal, kelompok moderat yang sejatinya merupakan mayoritas harus bergerak. Mereka tidak boleh hanya menjadi the silent majority.
Mereka harus menjadi the noisy majority yang peduli, berani bersuara dan memiliki komitmen kuat dalam melawan intoleransi, rasisme serta paham-paham radikalisme yang mengancam keutuhan NKRI.
Sama seperti kaum radikal, kelompok moderat perlu memiliki semangat juang untuk merebut kembali ruang-ruang publik yang dikuasai kaum radikal.
Kaum moderat tidak boleh pasif. Jangan hanya berwacana tapi nihil aksi. Keterlibatan untuk membendung gerakan radikal bisa dilakukan lewat langkah-langkah sederhana.
Terlibat aktif di lingkungan. Berani lapor aparat jika menemukan sesuatu yang mencurigakan. Termasuk, jangan diam saat mendengar khotbah yang intoleran, rasis, menyebar kebencian atau mengkafir-kafirkan orang.
Demikian antara lain pemikiran yang mengemuka dalam Diskusi Publik bertema “Radikalisme di Timur Tengah dan Pengaruhnya di Indonesia” di Jakarta, Sabtu (22/7).
Diskusi yang diprakarsai BARA Universitas Indonesia ini menghadirkan tiga pembicara, yakni: Prof Sumanto Al Qurtuby, Ph.D. dari King Fahd University, Saudi Arabia; Zannuba Ariffah chafsoh Rahman Wahid (Yenny Wahid) dari The Wahid Institute; dan Komjen. Pol. Drs. Suhardi Alius, M.H. (Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
Jangan Mau Dibohongi
Salah satu cara ampuh menolak infiltrasi paham radikal ialah dengan meluruskan miskonsepsi kita tentang apa yang terjadi di Timur Tengah.
Sementara ini, menurut Sumanto Al Qurtuby, ada tiga kesalahan utama orang dalam membaca dinamika pertikaian yang terjadi di Arab. Kesalahan pertama, mereka menganggap kekerasan di Timteng merupakan ulah Barat, Amerika, Kristen, atau Yahudi.
Mereka ini jelas hanya mau cuci tangan. Sebab fakta kekerasan di Timur Tengah sejatinya sudah berlangsung berabad-abad. Konflik ini bisa dipicu karena persaingan antarsuku, antarfaksi, motif ekonomi, politik dan sebagainya.
“Anehnya, ketika sampai di Indonesia, selalu konflik Timteng dibaca dalam dimensi teologis,” ujarnya.
Sumanto yang juga menjadi Visiting Senior Research Fellow di Middle East Institute, National University of Singapore ini menyebut, kesalahan kedua ialah adanya mitos bahwa konflik Arab adalah konflik Sunni vs Syiah. Katanya, “Ini jelas simplifikasi dan pembelokan persoalan.
Manipulasi ini saya menduga dirancang untuk tujuan tertentu. Di Arab, Sunni-Syiah tidak melulu musuhan.
Mereka bisa rukun, bertetangga dan kawin-mawin. Bahkan di Qatar, Sunni-Syiah dalam sejarahnya tidak pernah berperang. Selain itu, Arab bukan hanya Sunni-Syiah. Di Oman misalnya, masyarakatnya cenderung bertaklid kepada mazhab Ibadhiyah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/3-narasumber_20170724_175656.jpg)