Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pastor Hendro Terkenang Bersekolah di SD GMIM

Bukan kebetulan bagi Pastor Hendro Kandowangko, pastor pertama dari Desa Kolongan Mapanget Minahasa Utara merayakan misa pertama di desanya

Penulis: | Editor: Andrew_Pattymahu

TRIBUNMANADO.CO.ID,MANADO-Bukan kebetulan bagi Pastor Hendro Kandowangko, pastor pertama dari Desa Kolongan Mapanget Minahasa Utara merayakan misa pertama di desanya, Minggu (7/5).

"Ini hari Panggilan (menjadi imam, biarawan-biarawati) di seluruh dunia," kata Pastor Hendro saat memberi ungkapan hati di tenda acara halaman gereja stasi Maria Ratu Damai Kolongan Mapanget, stasi asalnya.

"Mama, papa, dan keluarga, merelakan
saya yang hina dina, orang kebun ditahbiskan."

Saat diarak dari rumah menaiki gerobang sapi, ia teringat masa kecilnya yang familiar dengan roda itu. Ia juga teringat saat masih sekolah di Sekolah Dasar (SD) GMIM 50 di kampungnya.

"Saya juga ingat ibu Marie Katuuk (kepala sekolah) selalu membonceng saya pergi ke lomba-lomba karena bukannya sombong saya bisa disebut siswa teladan," ujar Pastor Hendro berkelakar.

Setelah itu ia bersekolah di SMP Negeri 2 Dimembe (sekarang SMP Negeri 1 Talawaan). Dari situ, ia lalu bersekolah di SMA Katolik Karitas Tomohon dan tinggal di asrama Walterus. Dari suster-suster tarekat YMY, ia mendapatkan "panggilan" menjadi seorang imam. Saat kecil tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa akan menjadi imam.

Stasi Mapanget Kolongan Tetey (Makotey) saat itu hanya dilayani pastor 3 bulan satu kali. Dari situ, ia mengenal Pastor Yansen Dianomo (sekarang prokur keuskupan), Pastor Amri Wuritimur (sekarang ketua Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng/STF-SP), dan Pastor Marsel Rarun MSC yang hadir menjadi conselebran misa pertamanya bersama Pastor John Bomba hari itu.

Di masa kecil, ia lebih banyak masuk ibadah di gereja GMIM. Itu katanya karena selalu mengantar sang nenek beribadah di situ. Pastor Hendro bahkan mengaku hafal lagu di Kidung Jemaat. Panggilannya nanti bertumbuh ketika diajar oleh suster YMY seperti suster Nicoline Mantiri (alm). Di SMA Katolik Karitas Tomohon, ia akhir belajar tentang Katolik.

Di perbatasan Poso, saat ia berpastoral, ia hampir disambat truk kalau tidak segera mempercepat sepeda motor dan dua mobil plat hitam lain tidak refleks melambung. Ia pingsan dan saat bangun ia tahu ia dibantu oleh para wanita muslim yang mengenakan jilbab. Karena itu, ia mengambil moto tahbisan, "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal,"

Baginya suatu rahmat, jika bisa mempersembahkan misa mulia dan agung untuk umat. Setelah sebelas tahun jatuh bangun, ia akhirnya bisa mempersembahkan misa. Ia mengaku tidak layak dan pantas untuk itu. Tapi baginya yang layak dan tidak layak di hadapan Tuhan.

"Terima kasih karena telah mendoakan kami," katanya.

Marie Katuuk, sang guru mengatakan Pastor Hendro merupakan anak yang rajin dan dengar-dengaran sejak dibawa ibunya masuk sekolah GMIM tahun 1994. Guru-guru tidak pernah melaporkan adanya kenakalan

"Selamat melayani dan membawa domba ke rumput hijau," katanya.

Kedua dewan stasi Kolongan, Steven Silvester Wulur mengaku kaget umat yang hanya 34 KK dan baru diresmikan  Sompie Singal (bupati saat itu) tahun 2007 sudah memiliki imam. Ia mengucapkan terima kasih atas semuanya.

Nety Agnes Pantouw, Anggota DPR Propinsi yang mengaku keluarga pastor juga mengaku tidak menduga. Ia merasa sangat bahagia dan menyampaikan ucapan selamat atas nama gubernur, wakil gubernur, ketua dewan propinsi, dan anggota dewan propinsi

Asisten III Kabupaten Minahasa Utara Jein Simon mewakili bupati Minut Voni Panambunan mengucapkan selamat kepada umat yang menikmati rahmat. Ia mengatakan peran Gereja sangat penting.

Pastor Yansen yang diminta berkhotbah mengangat renungan Paus Fransiskus di Hari Minggu Panggilan. Ia ingin semua yang baru ditahbiskan menjadi gembala baik. (david manewus)

Sumber: Tribun Manado
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved