Kamis, 9 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Ahok Ibaratkan Dirinya Seperti Nemo, Lawan Arus Demi Kesejahteraan Orang Banyak

"Izinkan saya mengutip sebuah tulisan Goenawan Mohamad," kata Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kepada Ketua Majelis Hakim

Editor: Fransiska_Noel
capture youtube
Sidang kasus dugaan penodaan agama kembali berlangsung di auditorium Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok pun menyusun pleidoinya sendiri, yakni sekitar 10 hingga 20 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Dalam pledoi yang ditulisnya sendiri, Ahok mengutip tulisan penyair dan pendiri Tempo, Goenawan Mohamad serta berkisah tentang pertemuannya dengan sejumlah siswa TK yang diajaknya berbicara tentang film Finding Nemo, sementara pengacara menyampaikan pledoi setebal 634 halaman.

"Saya ingin menegaskan bahwa selain saya bukan penista/penoda agama, saya juga tidak menghina suatu golongan apa pun," katanya.

"Izinkan saya mengutip sebuah tulisan Goenawan Mohamad," kata Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kepada Ketua Majelis Hakim, Dwiarso Budi Santiarto.

"Stigma itu bermula dari fitnah. Ia tak menghina agama Islam, tapi tuduhan itu tiap hari diulang-ulang; seperti kata ahli propaganda Nazi Jerman, dusta yang terus menerus diulang akan jadi "kebenaran", Ahok mengutip bagian dari tulisan berjudul 'Stigma' yang ditulis Goenawan Mohammad.

"Kita mendengarnya di masjid-masjid, di media sosial, di percakapan sehari-hari, sangkaan itu menjadi bukan sangkaan, tapi sudah kepastian," lanjut Ahok.

Ahok kemudian melanjutkan kutipan tulisan Goenawan itu:

"Walhasil, Ahok diperlakukan tidak adil dalam tiga hal: difitnah, dinyatakan bersalah sebelum pengadilan, diadili dengan hukum yang meragukan."

Dan kemudian, Ahok mengutip bagian akhir tulisan itu, yang ditulis sesudah kekalahan Ahok di Pilkada 19 April 2017 lalu.

"Ahok kalah, ia bahkan masih bisa dijatuhi hukuman dalam proses pengadilan yang di bawah tekanan aksi massa itu. Jangan-jangan kebenaran juga kalah - di masa yang merayakan 'pasca-kebenaran' kini," katanya.

Usai mengutip tulisan Goenawan Mohammad, dalam nota pembelaannya Ahok berkisah tentang pertemuannya dengan sejumlah anak dari sebuah taman Kanak-kanak (TK) yang datang ke Balai Kota.

Ketua Majelis Hakim Dwiarso Budi Santiarto sempat memperingatkan.

"Saudara terdakwa harap fokus kepada hal-hal yang relevan dengan perkara," katanya, yang disanggupi oleh Ahok.

Ahok melanjutkan, bahwa ia ditanya anak-anak itu tentang anak-anak TK itu. "Mereka bertanya, mengapa saya kok mau melawan arus," katanya.

Kemudian, katanya, Ahok mengajak anak-anak TK itu menonton film animasi Finding Nemo, tentang seekor bapak ikan yang berjuang menyelamatkan anaknya. Bagaimana bapak ikan itu melawan arus, untuk menyelamatkan Nemo, anaknya.

Ahok mengibaratkan dirinya seperti Nemo, yang memutuskan untuk melawan arus demi keselamatan dan kesejahteraan orang banyak.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved