Syamsuddin: Mirajnya Umat Islam Dengan Salat
RATUSAN umat Islam di Manado dan sekitarnya berbondong-bondong datang ke Hotel Aryaduta untuk menghadiri peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad
Penulis: | Editor: Andrew_Pattymahu
Laporan Wartawan Tribun Manado Herviansyah
RATUSAN umat Islam di Manado dan sekitarnya berbondong-bondong datang ke Hotel Aryaduta untuk menghadiri peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam (SAW) 1438 Hijriah. Mereka berasal dari berbagai ormas Islam, Imam Mesjid, mahasiswa dan masyarakat membaur menjadi satu untuk memperingati satu di antara peristiwa paling penting di Islam tersebut.
Tak terkecuali dengan Gubernur Sulut Olly Dondokambey dan Wakil Gubrrnur Steven Kandouw dan Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin ikut menghadiri pula, Senin (25/4/2017).
Dalam tauziahnya Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin mengataka Isra Miraj memiliki makna yang mendalam bagi umat muslim, sebab Isra yang artinya perjalanan dan Miraj yang artinya dinaikkan dalam satu malam merupakan peristiwa yangTidak bisa dipikirkan melalui akal, tetapi iman.
"Meskipun dalam pengetahuan sekarang ini bisa dimungkinkan, yaitu perjalanan manusia melewati beberapa lapis langit," ujarnya.
Adanya perjalanan spritual tersebut, yaitu dari Masjidil Haram di Mekkah dan Masjidllil Aqsa di Pelestina mengandung arti manusia dalam proses persujudan. Jika ingin bersujud kepada Allah SWT harus meninggalkan keharaman, sehingga bisa mendekatkan diri kepadaNya.
Dengan demikian jika umat muslim bisa menghindari larangan Allah SWT, akan mendapatkan kehormatan. Namun proses persujudan harus dilakukan dengan intens, tidak cukup hanya rutinitas saja.
Sedangkan Miraj merupakan peristiwa Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha, yaitu tempat yang merupakan sedekat-dekatnya dengan Allah SWT. Begitu dekatnya dengan Allah SWT merupakan tempat yang paling bahagia. "Bahkan seorang sufi India pernah mengatakan kalau dirinya menjadi Nabi Muhammad SAW, tidak akan kembali lagi karena begitu dekatnya dengan Allah SWT," katanya.
Dalam Miraj tersebut Nabi Muhammad SAW memeroleh perintah untuk salat, yang berjumlah 50 kali dalam satu hari, namun kemudian menjadi 5 kali setelah melakukan negosiasi. Dengan demikian bisa dikatakan Miraj kaum muslimin adalah dengan salat lima waktu.
Selain itu, umat Islam harus menjaga perdamaian di tengah keberagaman, karena sesuai Nabi Muhammad SAW berpesan dalam suatu hadistnya mengatakan sesungguhnya keberagaman terbaik disisi Allah SWT adalah kehanifan yang terbuka, berlapang dada. "Untuk itu umat Islam harus menjadi muslim yang hanif," ungkapnya.
Gubernur Sulut, Olly Dondokambey mengungkapkan keberagaman di Sulut telah terbentuk sejak lama. Oleh karena itu harus dijaga dengan baik. "Sebab Sam Ratulangi pernah mengatakan manusia hidup menghidupi manusia lainnya atau yang lebih dikenal dengan istilah 'si tou timou tumou tou'," katanya.
Dengan demikian jika kebersamaan terus dijaga, kesejahteraan bisa ditingkatkan. Sebab hal tersebur bisa diwujudkan dalam suasana damai. "Kita harus hidup berdamai dengan Tuhan, berdamai dengan diri, dengan sesama dan lingkungan, karena kita ciptaan Tuhan," ungkapnya.
Dalam kegiatan yang digelar oleh Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Sulut juga diserahkan manfaat zakat kepada kaum duafa. (erv)