Kamis, 7 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tribun Manado TV

(VIDEO) Umat Katolik Rayakan Minggu Palma, Pengenangan Penderitaan Harus Dilakukan Dalam Kesungguhan

Umat Katolik Stasi Santo Fransiskus Xaverius Maumbi, berjalan kaki ke gereja stasi sambil mengangkat tinggi Daun Palma.

Tayang:
Penulis: | Editor: Alexander Pattyranie

Laporan Wartawan Tribun Manado, David Manewus

TRIBUNMANADO.CO.ID, AIRMADIDI - Ratusan Umat Katolik Stasi Santo Fransiskus Xaverius Maumbi, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, berjalan kaki ke gereja stasi sambil mengangkat tinggi daun palma, dan menyanyikan pujian dari rumah keluarga Lapian Enoch, Minggu (9/4/2017).

Dengan penuh semangat, mereka mengikuti perarakan Minggu Palma bersama Pastor Paroki Santa Ursula Watutumou, Pastor Joseph Ansow.

Minggu Palma ialah pengenangan untuk masuknya Yesus ke Yerusalem dengan seekor keledai dan disambut daun palma dalam Kitab Suci.

Bagi umat Katolik, Minggu Palma menjadi awal pekan suci (di dalamnya juga ada Kamis Putih, Jumat Agung, Vigili Paskah dan Hari Raya Paskah) yang disusun menurut kronologi Kitab Suci untuk membantu umat merenungkan hidup Kristus secara teratur dan mendalam.

Setelah perarakan, diadakan misa di gereja.

Yang berbeda dari misa biasa di Hari Minggu, diadakan pula pembacaan Kisah Sengsara (Kisah Yesus mulai perjamuan malam terakhir sampai dimakamkan) yang diulangi lebih meriah pada Jumat Agung untuk menunjukkan alur dasar tri hari suci (Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci).

"Hari ini kita semua berkumpul dan bersama seluruh umat Allah membuka peringatan misteri Paskah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu sengsara dan kebangkitan-Nya.

"Untuk melaksanakan misteri itulah Yesus memasuki Kota Yerusalem," kata Pastor Joseph saat membuka perarakan.

Dalam renungan, ia mengatakan untuk masuk Kerajaan Allah, jalan penderitaan harus dilalui seperti Yesus.

Dalam konteks itu, pengenangan akan penderitaan Kristus harus dilakukan dalam doa dan kesungguhan, pun dalam perarakan.

"Seperti Rosa Mystica (bunga mawar yang gaib), gelar Bunda Maria karena umat berdoa kepada Yesus melalui perantaraan Maria menurut rangkaian Mawar (Rosario) dengan hormat dan dilakukan bergantian, begitu pula dengan Palma Mystica.

"Daun bukan dipakai untuk mengusir lalat tapi dipakai untuk memuji Tuhan," katanya.

Dari peristiwa Palma ini katanya, lagu Sanctus (Kudus) dipakai dalam perayaan Ekaristi.

Dalam perayaan Ekaristi yang sarat dengan intisari Kitab Suci itu, seruan hosanna Anak Daud dimasukkan.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved