Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Luhut Serukan Perangi Masalah Sampah Plastik

Luhut serukan perangi sampah plastik dan bangun ekonomi secara berkelanjutan.

Penulis: Maickel Karundeng | Editor:
Luhut Binsar Pandjaitan 

Laporan wartawan Tribun Manado Maickel Karundeng

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia dan Direktur Eksekutif CTI-CFF Luhut B Pandjaitan (Kemenkomar) ditemani Gubernur Sulut Olly Dondokambey tiba di Sekretariat Regional CTI-CFF, CTI Centre, Jumat (7/4) dalam rangka tatap muka dan diskusi bersama.

Kunjungan Luhut Binsar Pandjaitan adalah dalam kapasitasnya sebagai Ketua Komite Nasional/Konas CTI-CFF Indonesia (sesuai dengan Perpres No.85 Tahun 2015) guna menjalankan fungsi koordinasi dan meningkatkan peran strategis Indonesia melalui lembaga multilateral CTI-CFF.

Sebagaimana diketahui, Indonesia adalah negara terbesar di kawasan Segitiga Karang dan memegang peran strategis dalam upaya-upaya konservasi kelautan, perikanan berkelanjutan serta ketahanan pangan. 

Luhut serukan perangi sampah plastik dan bangun ekonomi secara berkelanjutan.

Dalam kunjungan ini, Menteri Luhut menegaskan kembali dukungan Kemenkomar atas pentingnya upaya-upaya nyata di lapangan terkait konservasi kelautan, perikanan berkelanjutan dan ketahanan pangan yang dilakukan oleh organisasi multilateral CTI-CFF dengan pembangunan ekonomi kemaritiman di Indonesia.

"Pada dasarnya tujuan kegiatan CTI-CFF kurang lebih sejalan dengan program pembangunan ekonomi maritim kita apa saja? Misalnya pengelolaan sampah dan pengurangan plastic debris serta pengembangan industri strategis bidang kemaritiman berkelanjutan," terang Menko Luhut.

Berdasarkan data Jambeck (2015), Indonesia di peringkat kedua dunia pencemaran sampah plastik ke laut yang mencapai sebesar 187,2 juta ton setelah Cina yang mencapai 262,9 juta ton. Diikuti oleh negara anggota CTI-CFF lainnya Filipina peringkat ketiga yang mencapai 83,4 juta ton, terkair Malaysia peringkat kedelapan yang mencapai 22,9 juta ton.

Marine debris atau sampah laut yang 90 persen terdiri plastik dan berasal dari 80 persen daratan telah menjadi masalah tersendiri, karena volumenya yang meningkat dari tahun ke tahun. 

Dirjen Pengelolaan sampah, limbah, dan B3 KLHK, Tuti Hendrawati Mintarsih menyampaikan bahwa total sampah Indonesia di tahun 2019 akan mencapai 68 ton, dan sampah plastik diperkirakan mencapai 9,52 juta ton atau 14 persen dari total sampah yang ada.

Direktur Eksekutif CTI-CFF Widi Pratikto PhD menyambut baik kedatangan bersejarah Menteri Luhut yang pertama kali mengunjungi Gedung Sekretariat Regional CTI-CFF di Kota Manado.

"Kedatangan Menteri menandakan bahwa Indonesia memegang peran penting kepemimpinan kawasan Segitiga Karang, baik untuk tujuan konservasi dan ekonomi kemaritiman," ujarnya.

Hal lain yang juga penting adalah komitmen Indonesia dalam memerangi sampah plastik yang bermuara ke laut dan menjadi perhatian Menteri Luhut dalam kapasitasnya sebagai Ketua Konas CTI-CFF.

Dalam konteks koordinasi, Sekretariat Regional CTI-CFF telah melakukan upaya-upaya konsolidasi mengatasi masalah sampah plastik dalam bentuk program bersama. Hal ini mengingat 3 negara anggota CTI-CFF, yaitu Indonesia, Malaysia, dan Filipina menjadi penyumbang sampah plastik yang cukup signifikan menurut survei Jambeck (2015).

Gubernur Sulut Olly Dondokambey berkata pengelolaan sampah di Sulut sudah di antisipasi. Saat ini Pemprov sedang belajar pengelolaan sampah di Denmark. 

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved