Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kampus Unima Lagi Digoyang Demo

Kampus Universitas Negeri Manado (Unima) di Tondano Minahasa kembali digoyang aksi demonstrasi.

Penulis: Alpen_Martinus | Editor: Lodie_Tombeg
Tribun Manado
Ilustrasi. Puluhan mahasiswa Universitas Negeri Manado (Unima) bagikan seribu bunga di Tondano dan sekitarnya, Senin (14/11/2016) sore. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, TONDANO - Kampus Universitas Negeri Manado (Unima) kembali digoyang aksi demonstrasi. Puluhan mahasiswa berunjuk rasa di kantor Pusat Unima, Senin (6/2). Mereka menuntut persoalan ijazah palsu (ipal) segera diselesaikan. Selain itu, disorot juga masalah pungutan liar termasuk slip SPP (sumbangan pembinaan pendidikan) palsu.

Massa mahasiswa datang membawa sejumlah spanduk yang bertuliskan beberapa tuntutan. Mereka melakukan orasi. Sempat bersitegang dengan sejumlah petugas pengamanan kampus, namun aksi tersebut terus berlanjut.
Orator secara bergantian menyuarakan aspirasi dengan menggunakan toa. Aksi itu sempat menyita perhatian dari beberapa warga kampus.

Beberapa poin yang menjadi tuntutan mereka di antaranya agar masalah dugaan ipal segera dituntaskan.
Mahasiswa juga meminta agar dilakukan pengusutan terhadap Plh Rektor Unima Prof Jamal Wiwoho yang telah menandatangani ijazah. Menurut mereka tidak bisa dilakukan karena statusnya sebagai pelaksana harian.
Menurut mereka, keputusan Kemenristek Dikti dianggap melecehkan keputusan Menristek Dikti yang telah mencabut gelar profesor, memecat dua guru besar, kemudian mengembalikan lagi.

Massa menyoroti soal permasalahan Konsentrasi Geotermal dan Farmasi yang tidak bisa diproses izinnya. "Sementara untuk IKM bisa," kata Septian saat berorasi.
Para pendemo juga mengkritisi kerja tim Saber Pungli Unima yang dinilai tumpul, sebab masih banyak pungutan yang dilakukan oleh dosen di tiap jurusan.

Masalah PDPT dan SIA Unima juga menjadi sasaran kritik mahasiswa tersebut, sebab hingga saat ini masih banyak mahasiswa yang bingung dengan dua program tersebut, termasuk operatornya yang dianggap tidak profesional.

Masalah Slip SPP palsu juga sempat disentil. Sebab menurut mereka, banyak slip SPP yang memiliki nomor registrasi tapi tidak terdaftar di bank dan tidak dapat dilacak oleh BAAK.
"Di Unima listrik juga sering padam saat jam kuliah dan sangat mengganggu aktivitas perkuliahan kami," ujarnya.

Mereka juga meminta agar Rektor segera menjawab permasalahan di Unima. Rombongan mahasiswa ini ditemui oleh Purek II Unima Jeffry Tamboto. Dia menjelaskan, tidak mau berkomentar soal dugaan ipal.
"Kalau soal listrik kita sudah koordinasikan dengan PLN, sedangkan untuk masalah PDPT dan SIA Unima sementara kami benahi," kata dia.

Usai itu, mahasiswa membubarkan diri namun berjanji akan kembali berdemo jika tuntutan mereka tidak digubris. Rektor Unima Prof Paula Runtuwene menurut informasi saat ini tidak berada di Unima lantaran ada tugas luar daerah. *

BEBERAPA TUNTUNAN
* Persoalan ijazah palsu (ipal) segera diselesaikan
* Masalah pungutan liar termasuk slip SPP (sumbangan pembinaan pendidikan) palsu
* Soal permasalahan Konsentrasi Geotermal dan Farmasi yang tidak bisa diproses izinnya
* Di Unima listrik juga sering padam saat jam kuliah

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved