Selasa, 2 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Berita Eksklusif

Kebijakan Menteri Susi Berbuntut Banyak Pengusaha Ikan di Bitung Gulung Tikar

Kebijakan Menteri Perikanan Susi Pudjiastuti menghidupkan para nelayan kecil, sebaliknya mematikan industri perikanan di Bitung.

Tayang:
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Fransiska_Noel
TRIBUNMANADO/CHRISTIAN WAYONGKERE
Menteri Perikanan RI Susi Pudjiastuti tiba di Kantor Pelabuhan Perikanan Bitung, Jumat (13/5/2016). 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Bak pedang bermata dua, Kebijakan Menteri Perikanan Susi Pudjiastuti menghidupkan para nelayan kecil, sebaliknya mematikan industri perikanan di Bitung.

Sebagian besar perusahaan ikan kekurangan bahan baku ikan dikarenakan larangan penangkapan ikan oleh kapal ikan eks asing dan ABK asing.

Selama ini, sejumlah perusahaan ikan di Bitung ditengarai menggunakan kapal ikan eks asing dan ABK asing.

Ketua Asosiasi Unit Pengolahan Ikan (UPI) Bitung, Basmi Said mengatakan, pasokan ikan untuk pabrik pengolahan ikan di Bitung tinggal 90 ton sehari."Normalnya 700 hingga 1000 ton," ujar dia.

Disebutnya, perusahaan ikan terpaksa mendatangkan ikan dari Muara Karang Jakarta.

Bahkan ada perusahaan yang mendatangkan bahan baku ikan dari India."Hal itu untuk menjaga permintaan pasar, kan ironis kita impor ikan padahal laut kita kaya akan ikan," ujar dia.

Basmi yang juga merupakan plant manager PT Delta Indotuna membeber, industri Perikanan Bitung rugi hingga Rp 8,7 triliun pada tahun lalu.

Kerugian itu belum termasuk dampak sosial yang ditimbulkan."Pengangguran meningkat, ekonomi lambat, angka kriminalitas meningkat," kata dia.

Basmi mengaku sudah menyampaikan langsung hal itu ke Wapres Jusuf Kalla kala bertandang ke Bitung.
Sebut Basmi, Kalla kala saat itu terkejut. Ia berjanji akan mencari solusinya."Wah ini masalah serius," kata Kalla seperti ditirukan Basmi.

Aktivis Buruh Petrus Sidangoli membeber, demo buruh yang hampir setiap hari terjadi di Bitung merupakan buah dari kebijakan Susi tersebut.

Dia meminta pemerintah segera bertindak."Harus ada solusi pemerintah atas masalah ini," kata dia.

Data Disnaker Bitung, dari puluhan perusahaan pengolahan ikan di Bitung, tinggal empat saja yang masih beroperasi.

Itupun sudah megap -megap. Beberapa diantaranya bahkan sudah mengajukan penangguhan UMP 2017.

Ajak Berdoa

Perayaan pisah tahun Pemkot Bitung, Sabtu (31/12/2016) di Pelabuhan Perikani Samudera Bitung, Sulawesi Utara, berlangsung lirih.

Wali Kota Bitung, Max Lomban mengajak ribuan warga Bitung yang hadir mendoakan sektor Perikanan Bitung yang sedang terpuruk.

Lima belas menit sebelum pukul 24.00 Wita atau waktu pergantian tahun, Lomban tampil bersama anggota paduan suara pada ibadah tutup tahun di atas sebuah kapal besar yang menjadi area utama pelaksanaan perayaan.

Mereka membawakan lagu "Sweet Anointing" yang dipopulerkan John Hartman dan Lomban tampil solo dengan membawakan bagian reff dari lagu itu.

Usai bagian pertama lagu, Lomban membaca sebuah teks berisi permohonan pada Tuhan.

Ia membacakan teks dengan mata berkaca-kaca dan suara bergetar.

"Ini lagu urapan Tuhan buat kota ini, semoga Tuhan menyingkirkan berbagai masalah yang sementara kita hadapi," ujar dia.

Suasana begitu lirih.

Teks syahdu yang dibacakan Lomban ditingkahi huming dari anggota paduan suara lainnya, membuat bulu kuduk meremang dan sejumlah warga tak tahan untuk meneteskan air mata.

Harapan bahwa hal yang buruk akan segera berlalu nampak dalam acara tos di detik-detik pergantian tahun.
Lomban dan Mantiri melakukan tos dengan sorot mata penuh keyakinan.

Lomban menuturkan, wilayah pelabuhan dipilih sebagai tempat pelaksanaan acara akhir tahun untuk menggelorakan harapan kebangkitan kembali sektor perikanan di Bitung yang terpuruk.

"Ini kali pertama acara pisah tahun digelar di sini, maksudnya adalah untuk menghibur para pelaku perikanan sekaligus memberi harapan akan datangnya masa kebangkitan perikanan Bitung," ujar dia.

Menurut Lomban, industri perikanan di Bitung berada dalam sakratul maut.

Diungkapnya, sebanyak 5.700 pekerja di sektor penangkapan serta 9.000 lainnya di sektor pengolahan menganggur."Belum ada perbaikan, regulasi tetap tidak mendukung," ujar dia.

Akibat terpuruknya sektor perikanan, sebut dia, pertumbuhan ekonomi Bitung turun dari 6,39 persen tahun 2014 menjadi 3,52 persen di tahun 2015.

Kemiskinan pun meningkat dari 6,24 persen di tahun 2014 menjadi 6,87 persen di tahun 2015. Namun Lomban optimistis ada perubahan regulasi yang menguntungkan pelaku perikanan di Bitung pada tahun 2017.

Dia mengaku akan berupaya dengan keras untuk memulihkan sektor perikanan di Bitung."Kita berdoa dan bekerja," beber dia. (art)

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved