Harga Cabai Tembus Rp 100 Ribu
Dari data yang berhasil dikumpul melalui tim terpadu Pemprov Sulut dan Bulog mulai pekan lalu harga rica dikisaran rp 60 ribu
Penulis: Christian_Wayongkere | Editor: Andrew_Pattymahu
TRIBUNMANADO.CO.ID,MANADO - Harga rica atau cabai disejumlah pasar terus menunjukkan kenaikan. Dari data yang berhasil dikumpul melalui tim terpadu Pemprov Sulut dan Bulog mulai pekan lalu harga rica dikisaran Rp 60 ribu hingga menyentuh angka Rp 70 ribu per kilonya.
Sementara itu pada Senin (16/1) dari keterangan sejumlah warga harga Rica mencapai angka Rp 90 ribu sampai Rp 100 ribu. "Di pasar Karombasan saya beli rica 1 kilo Rp 100 ribu," ujar Jus warga Wenang.
Terkait harga itu pria yang keseharian membuka usaha tempat makan nasi campur dan Tinutuan campur tetap merogoh koceknya untuk membeli cabe meski harganya mengalami kenaikan. Menurutnya memang sejak pekan lalu harga Rica tidak menentu.
"Ya kalau tidak beli sebagai penjual makanan akan ditinggalkan konsumen, karena cabe sering dipakai untuk buat beberapa jenis dabu-dabu untuk dimakan dengan Tinutuaan Campur," jelasnya.
Aya ibu rumah tangga asal jalan 17 Agustus Manado mengaku meski mahal rica tetap harus dibeli untuk campuran bumbu dapur.
"Saya beli di pasar Bersehati Rp 90 ribu per kilonya, sebelumnya harga per kilo Rp 80 ribu," urai Aya. Meski tak setiap hari beli rica Aya sudah menjadwalkan setiap dua hari sekali baru beli rica. "Misalkan hari ini sudah beli dan tak terpakai semua besoknya tidak beli lagi nanti lusanya baru beli rica," tandasnya.
Terisah Pemprov Sulut melalui Kepala Biro Perekonomian dan SDA Frangky Manumpil malah menemhkan harga rica per kilonya Ep 80 ribu. "Ini kami peroleh dari pedagang pengecer dan angka ini masih stabil," jelas Manumpil.
Menurutnya kondisi harga rica dipasara mengalamj supplay and demand. Jenny Karouw Kadis Perindag Pemprov Sulut juga mendapati harga jual rica per kilo Senin siang hingga sore Rp 80 ribu.
"Ini hasil turun lapangan kami di Pasar Bersehati dan pasar Pinasungkulan Karombasan. Setiap hari kami terus pantau perkembangan harganya termasuk harga kebutuhan pokok lain," kata Jenny. Dia menilai harga jual rp 80 ribu masih terlalu tinggi disebabkan harga beli di daerah ini relatif rendah ketimbang daerah Jawa dan sekitarnya. Hasil panen dari Gorontalo dan Sulut dijual ke Jawa dan sekitar karena harga belinya Rp 200 ribu.
"Atas keadaan ini hukum pasar berlaku. Kami pemerintah tidak berani menekan harga terlalu rendah di daerah karena kalau rendah para penjual memilih jaul kedaerah yang harga belinya tinggi," jelasnya.
Untuk itulah Selasa besok (hari ini) pihaknha akan berkoordinasi dengan Bulog melakukan operasi pasar mengantisipasi harga melonjak.(crz)