Tutup Tahun di Paroki Santa Ursula Semarak
Umat paroki Santa Ursula Watutumou merayakan misa tutup tahun, Sabtu (31/12) dengan semarak.
Penulis: | Editor: Andrew_Pattymahu
TRIBUNMANADO.CO.ID,MANADO-Umat paroki Santa Ursula Watutumou merayakan misa tutup tahun, Sabtu (31/12) dengan semarak. Lagu-lagu misa baik ordinarium (Kyrie, Gloria, Sanctus dan Agnus Dei) juga proprium (lagu persembahan dan lain-lain) diiringi bunyi alat musik Manado Chatolic Orchestra.
Umat tampak gembira menikmati lagu-lagu yang dinyanyikan wilayah rohani Santo Filipus Neri Stasi Lumen Christi Perum Pemda. Bahkan mereka di antara tampak tersenyum ketika perpaduan paduan suara dan orkestra itu membawakan lagu "Kini Tiba Saatnya" sebagai lagu penutup misa.
"Kini tiba saatnya kita untuk berpisah, s’lamat tinggal tahun yang lama penuh kenangan, s’moga di tahun yang baru tuhan memberkati, kebahagiaan yang lebih dari tahun yang silam,"
Dalam renungannya, Pastor Ansow mengajak semua untuk bersyukur. Berdasarkan bacaan-bacaan liturgi hari itu, ia mengatakan pertama-tama orang harus bersyukur pada Tuhan karena Allah menciptakan dunia dan segala sesuatunya untuk manusia.
"Manusia citra Allah, putra-putri Allah, yang diberi martabat istimewa. Manusia memiliki akal budi dan kehendak bebas," katanya.
Rasa syukur kedua kata Pastor Ansow bukan hanya karena ciptaan, bukan hanya karena martabat tapi juga karena manusia sudah ditebus. Dalam bacaan Injil katanya Putra tunggal Allah menjadi daging (inkarnasi), ia imanere (tinggal di antara kita atau imanuel) dan menebus.
"Ia mengangkat martabat kita. Ia menebus kita karena kita sering jatuh dalam dosa," ujarnya.
Pastor Ansow mengatakan rasa syukur berikutnya karena telah dikumpulkan di dalam Gereja yang berada di tengah kegelapan dunia. Kegelapan itu dalam bentuk anti Kristus yang memiliki pandangan lain.
"Ada yang kontra dengan pandangan manusia sebagai putra-putri Allah misalnya paham materalistis. Kalau sudah mati mereka manusia seperti binatang, pohon yang tumbang yang tidak ada artinya lagi," katanya.
Ia juga menemukan pandangan lain soal independensi yang terlalu kuat.
"Orang merasa menjadi lebih dari Tuhan Allah, sudah jadi tuanggala," katanya.
Untuk melawan Anti Kristus, orang Kristen harus menjadi terang. Mereka harus memberikan pandangan yang baik dan benar.
Ia mengatakan orang harus mengucap syukur dengan jawaban seperti dalam ibadah atau misa. Baginya liturgi ialah tindakan Allah yang menyelamatkan manusia juga tindakan manusia untuk memuji dan mengucap syukur pada Tuhan.
"Itu juga lewat pewartaan, lewat diakonia, lewat kesaksian hidup, dan lewat kebersamaan. Itu yang saya lihat berkembang di paroki ini," ujarnya.
Semua katanya harus menjadi serupa dengan Kristus. Mereka harus menampakkan wajah Kristus kepada sesama. (dma)