3.929 Orang Tertarik Puade Kotamobagu
Stand pemerintah kota Kotamobagu hingga penutupan pameran tercatat ada 3.929 masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) yang datang berkunjung.
Penulis: Handhika Dawangi | Editor:
Laporan wartawan Tribun Manado Handhika Dawangi
TRIBUNMANADO.CO.ID, KOTAMOBAGU - Stand pemerintah kota Kotamobagu hingga penutupan pameran tercatat ada 3.929 masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) yang datang berkunjung. Kunjungan tersebut sebagian besar untuk berfoto di puade atau pelaminan.
Jumlah pengunjung pada hari pertama (21/9) ada 111 orang,
(22/9) 242 orang, (23/9) 246 orang,(24/9) 382 orang, (25/9) 234 orang,
(26/9) 366 orang, (27/9) 336 orang,
(28/9) 381 orang, (29/9) 164 orang,
Jumat (30/9) 967 orang,Sabtu (1/10) 500 orang.
Puade ada di semua wilayah di Sulawesi Utara, namun yang ada di Kotamobagu sangat berbeda dengan yang lainnya. Begitu yang dikatakan Fadila Farada (26), pengunjung pada hari terakhir pameran Sabtu (1/10) siang.
"Hiasannya yang membuat kami para pengunjung ingin berfoto. Dari tampilannya hiasan yang digunakan begitu unik dan menarik," ujar warga Bahu, Manado ini.
Stand Kota Kotamobagu menjadi yang ketiga ia kunjungi saat itu setelah stand TNI Angkatan Darat, dan Brimob. Fadila sebelumnya pernah berkunjung ke Kota Kotamobagu. Menurutnya Kotamobagu adalah kota yang ramai.
"Sudah delapan kali ke Kotamobagu. Selain untuk pesta, ke Kotamobagu juga dalam rangka touring sepeda motor. Di Kotamobagu saya lihat kotanya itu ramai," ujar dia.
Ia berharap kedepan Kota Kotamobagu akan lebih maju dan menjadi kota yang dapat bersaing dengan kota lain di Sulut bahkan di Indonesia. "Kalau ada kreasi lagi yang lain silakan ditonjolkan," ujar dia.
Sementara itu Agung Adati, Kepala Dinas Perhubungan, Kebudayaan, Pariwisata, Komunikasi dan Informasi (Dishubbudparkominfo) Kotamobagu mengatakan hasil kreasi budaya masyarakat Kota Kotamobagu itu ada beragam, tidak hanya hiasan pada puade.
"Ada kabela atau kotak tempat sirih yang digunakan untuk upacara adat kebersihan mulut, dan masih banyak lain yang pasti lebih diketahui oleh para tua adat. Yang sementara " ujar Agung.
Agung mengatakan untuk mempamerkan kerajinan peninggalan leluhur tersebut, pemkot telah melaksanakan dengan ikut menampilkan di acara-acara budaya di Kotamobagu dan di tingkat nasional.
"Memang saat pameran di Manado itu kita kendala di tempat yang tidak memadai untuk mempamerkan semua kerajinan. Mudah-mudahan tahun 2017 nanti dengan adanya OPD baru dimana terbentuknya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata akan lebih fokus lagi mempamerkannya baik di Kotamobagu maupun di luar," ujar Agung.
Chairun Mokoginta seorang budayawan Bolaang Mongondow mengatakan bahwa memang masih banyak kerajinan dan ornamen peninggalan leluhur Bolaang Mongondow dan sekitarnya.
"Untuk puade yang saat ini dihiasi berbagai pernak-pernik itu adalah gabungan antara empat etnis, Kaidipang, Bintauna, Mongondow, dan Bolango. Selain itu dulu ada puade dalam bentuk sederhana yang hanya menggunakan bunga hidup kolaborasi dengan bunga kertas, " ujar Ketua Lembaga Warisan Budaya Bolaang Mongondow Raya dan
Ketua Forum Pembauran Kebangsaan Kabupaten Bolmong ini.
Lanjut dia kerajinan tangan tradisional peninggalan leluhur dan merupakan simbol kebudayaan Bolaang Mongondow
itu banyak diantaranya Kampi' atau tempat rokok, Bako tempat rokok lebih kecil dari kabela, boyo boyo wadah untuk menyimpan berbagai perhiasan terbuat dari tembaga, kabaunga tempat baju dari rotan, kalupit tas yang terbuat dari rotan dianyam halus dan dipakai tali dibawa oleh laki-laki.
"Masih ada puluhan lagi ornamen peninggalan kerajaan Bolaang Mongondow dulu," ujar dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/pameran_20160925_233701.jpg)