Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

MPA Consilli Solafide STAKN Manado, Tak Sekadar Mendaki Gunung

Umumnya organisasi pecinta alam adalah wadah para pecinta alam yang ingin melestarikan dan menjaga alam sebagai ciptaan Tuhan.

Penulis: | Editor:
ISTIMEWA
Mahasiswa Pecinta Alam (MPA) Consilli Solafide Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN) Manado saat upacara bersama di Gunung Tampusu 

Laporan wartawan Tribun Manado Christian Kagansa

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Umumnya  organisasi pecinta alam adalah wadah para pecinta alam yang ingin melestarikan dan menjaga alam sebagai ciptaan Tuhan.

Persepsi yang terbentuk kemudian adalah para mahasiswa yang hobi mendaki gunung, panjat tebing, menyelam, melakukan penghijauan, dan terlibat dalam penyelamatan (search and rescue, SAR).

Persepsi itu masih melekat dalam aktivitas Mahasiswa Pecinta Alam (MPA) Consilli Solafide Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN) Manado. Namun, organisasi yang berdiri sejak 7 Agustus 2012 ini punya ciri khas.

Tak seperti pecinta alam lainnya yang fokus pada aktivitas di alam seperti mendaki, panjat tebing, MPA Consilli Solafide fokus pada pelayanan kerohanian kepada masyarakat.

Rifky Makahinda, satu di antara anggota mengatakan, sesuai namanya, Consilli Solafide, MPA ini berasas pada pertemuan iman. Jadi, atas dasar itu lingkup terbesar organisasi ini adalah untuk memuji Tuhan.

"Kita melakukan pelayanan di kampung-kampung sekaligus bakti sosial seperti melakukan penghijauan agar tak meninggalkan ciri khas MPA itu sendiri," ujar Rifky.

Lanjut Rifky, mendaki atau aktivitas lainnya dilakukan tidak rutin. Biasanya saat ada waktu luang atau sebulan sekali. Dalam kegiatan internal, mereka juga menggelar kegiatan rohani.

Saat ini ada 15 personel MPA Consilli Solafide. Mereka menjadi motor dalam menjalankan berbagai program. Rifaldi Tatali, Ketua MPA, mengatakan, waktu, tenaga, bahkan juga materi harus dikorbankan demi eksistensi organisasi.

Dalam beberapa kali kegiatan pelayanan di daerah-daerah jauh, misalnya di Buntalo, Boroko, mereka harus bekerja keras mengumpulkan dana sebelumnya.

"Kami mencari dana dengan menjual suvenir, melakukan kegiatan aksi di gereja, menjual kue, menjalankan proposal, sampai ngamen" ungkap Rifaldi.

"Saat kami melakukan pelayanan di masyarakat, di dalamnya juga kita mengagendakan beberapa kegiatan, seperti ibadah KKR, baksos, penanaman 1.000 pohon, dan juga lomba-lomba untuk meramaikan acara tersebut," Kata Melki Kawuwung, satu di antara anggota.

Lanjut Melki, pihak kampus mengapresiasi kegiatan mereka karena sesuai dengan kebutuhan kampus. Meski begitu, mereka juga tak melupakan kampus. Setiap Sabtu mereka menggelar bersih-bersih kampus.

"Kami juga membuatkan tempat sampah untuk kampus. Lubang-lubang pembuangan sampah kami gali," pungkasnya.

Sumber: Tribun Manado
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved