Mahasiswa UKIT Demonstrasi Pemecatan Rektor
Konflik antara petinggi Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM dan Universitas Kristen Indonesia Tomohon.
Penulis: Ryo_Noor | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, TOMOHON - Konflik antara petinggi Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM dan Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) kian memanas.
Pemicunya Rektor UKIT Yopie Pangemanan kembali dinonaktifkan oleh Yayasan AZR Wenas. Ini kali kedua Yopie dinonaktifkan. Alhasil keputusan itu memantik reaksi para mahasiswa UKIT.
Sedikitnya ratusan mahasiswa turun ke jalan menggelar aksi demonstrasi di depan kantor Sinode GMIM, Tomohon, Selasa (20/9) siang.
Ratusan anggota polisi pun siaga di kantor Sinode mengamankan aksi demonstrasi. Mahasiswa menuntut agar BPMS GMIM mencabut keputusan penonaktifan rektor, dan mendesak BPMS. Namun tuntutan mahasiswa tak kunjung direspon.
Mahasiswa pun berinisiatif menerobos barikade polisi bermaksud menemui petinggi BPMS GMIM.
Namun upaya itu malah memicu bentrokan antara mahasiswa dan aparat polisi. Diawali saling dorong, berujung penganiayaan dialami sedikitnya tiga mahasiswa.
Yopi Supukie, salah seorang Mahasiswa UKIT mengaku dianiaya aparat. Kepalanya bengkak, wajah dan badannya memar.
"Saya hanya mau menyuarakan aspirasi, terjadi kesemena-menaan, Rektor UKIT diberhentikan tanpa alasan yang jelas, namun malah mendapat penganiayaan," kata dia.
Yopi mengaku ditarik aparat, kemudian dipukuli, bajunya sampai sobek. Hal yang sama juga dialami rekan-rekannya yang lain.
Rian Momereh, mahasiswa UKIT lainnya mengungkapkan kekecewaan. Pertama kepada petinggi BPMS yang tak punya itikad baik menyelesaikan gejolak di UKIT ini.
"Kami hanya minta difasilitasi untuk pertemuan antara BPMS, Yayasan dan Mahasiswa duduk rapat bersama membahas masalah ini," kata dia.
Namun tidak kepastian diberikan BPMS. Kedua, ia mengaku kecewa atas perlakuan aparat yang semena-mena melakukan penganiayaan terhadap mahasiswa "Kami kecewa perilaku anarkis para aparat penegak hukum," sebutnya.
Meykel Hantang, Ketua Cabang GMNI Tomohon mendesak agar penganiayaan terhadap para mahasiswa UKIT ditindaklanjuti oleh Kapolda Sulut.
Kebetulan kata Meykel, yang jadi korban penganiayaan adala kader GMKI. "Demo UKIT di kantor sinode diwarnai kekerasan oleh aparat kepolisian karena itu kami menuntut pertanggungjawabkan kapolres dan kapolda sebagai pimpinan kepolisian, jelas aksi kekerasan sementara, kami menjalankan aksi damai," kata dia.
Kasubag Humas Polres Tomohon, Ipda Johny Kreysen, mengungkapkan, aparat kepolisian turun tujuannya untuk mengamankan. Diakuinya memang aksi demo sempat memanas, terjadi saling dorong antarmahasiswa dan petugas. Namun situasi itu tetap terkendali dan masih dalam batas wajar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/demo-ukit_20160831_124743.jpg)