Sabtu, 30 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tato Jadi Petunjuk Polisi Tembak Pemerkosa di Manado

Tersangka pemerkosaan dan curas terhadap mahasiswi UNPI Manado ini dilumpuhkan dengan tembakan karena membahayakan tim.

Tayang:
Penulis: Finneke | Editor: Fransiska_Noel

"Namun saat perjalanan, korban dalam keadaan terikat berhasil lompat dari kendaraan dan ditolong warga sekitar, lalu melapor ke polisi," ungkap Kombes Pitra.

"Saat ini kasus dalam pengembangan mencari barang bukti sajam. Untuk proses hukum, kasus ini ditangani oleh Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Sulut," jelas Kombes Pitra. 

Kaget Lihat Preman Menangis

Di balik kesuksesan polisi melaksanakan tugas, selalu ada cerita unik di baliknya. Entah saat mengungkap kasus, operasi, maupun melayani masyarakat.

Seperti yang diutarakan Bripda Faysal Banua Suwikmyo, Bintara remaja yang bertugas di Direktorat Sabhara Polda Sulut. Ia menceritakan pengalaman yang dinilai unik saat bertugas.

Pertama saat operasi Lebaran Ketupat di Kota Manado beberapa waktu lalu. Saat itu ia dan teman-temannya yang berjumlah satu pleton ditugaskan untuk pengamanan di wilayah Tuminting.

"Tiba-tiba kami diarahkan meluncur ke Tumumpa karena ada tawuran antar-warga," ujarnya kepada Tribun Manado, Selasa (30/8).

Sesampai mereka di lokasi, Tim Paniki terlebih dahulu menangkap sejumlah tersangka. Meski mulai reda, mereka disuruh stand by di lokasi.

"Saat itu situasi masih agak memanas. Tiba-tiba ada pria kekar dan penuh tato lewat sambil teriak-teriak. Kami kejar, dia lari. Lalu terjadi kejar-kejaran hingga ke gang warga," kenangnya.

Polisi pun berhasil menangkap pria itu. Ternyata dia merupakan preman di kampung yang sudah dikenal warga. Saat ditangkap, pria itu meminta-minta ampun.

"Ibu dan istrinya datang. Ternyata istrinya sedang mengandung. Pria itu lalu menangis minta ampun. Lucunya saya tak sangka pria seperti dia menangis. Karena pertimbangan, komandan kami memerintahkan tak usah menahan pria itu asalkan tak berbuat onar," kenangnya.

Selain itu, pengalaman unik lainnya yakni membantu SPKT Polresta Manado melayani warga negara Prancis yang kehilangan tasnya di mikrolet.

"Saat itu sedang operasi pengamanan Paskah. Saat hendak makan siang, saya dipanggil di SPKT," kenangnya.

Ternyata ia diminta agar membantu melayani bule tersebut. Karena memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang mumpuni, ia lalu mengorek informasi.

"Di situ saya seperti penyidik. Tanya informasi bagaimana kronologinya. Saya berdoa kepada Allah SWT. Tiba-tiba dapat pencerahan, akhirnya tas itu ditemukan utuh," kenangnya.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved