Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Indonesia Defisit Daging, Gula dan Kedelai

Alih-alih swasembada, Indonesia justru terancam defisit pangan, terutama komoditas kedelai, daging sapi dan gula pasir.

Editor: Fernando_Lumowa
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi daging sapi 
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Semangat Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk swasembada pangan tampaknya masih jauh panggang dari api. Alih-alih swasembada, Indonesia justru terancam defisit pangan, terutama komoditas kedelai, daging sapi dan gula pasir. Kementerian Pertanian (Kemtan) memperkirakan, ketiga komoditas pangan itu mengalami defisit pada akhir tahun ini. Kemtan menghitung, defisit kedelai mencapai 42%, daging sapi 33%, dan gula pasir defisit sekitar 16%. Berdasarkan hitungan Kemtan, produksi kedelai sepanjang tahun ini hanya 1,5 juta ton. Sementara kebutuhan dalam negeri sebesar 2,59 juta ton. Artinya, ada sekitar 1,09 juta ton yang kekurangannya harus didatangkan dari impor. Demikian juga daging sapi, perkiraan produksi dalam negeri hanya 441,800 ton, sementara kebutuhan 662,300 ton. Jadi defisit 220.500 ton yang harus diimpor. Ada pun produksi gula pasir diprediksi 2,57 juta ton atau di bawah kebutuhan sebesar 3,05 juta ton. Ada kekurangan 477.200 ton yang harus diimpor. Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kemtan, Agung Hendriadi bilang, Kemtan terus menggenjot produksi komoditas yang defisit ini agar bisa diperkecil selisih antara produksi dan kebutuhan. "Tapi, untuk komoditas lain sudah mencukupi," ujarnya, Selasa (23/8). Agung menjelaskan, komoditas beras tak perlu impor hingga akhir tahun. Sebab, stok beras saat ini sudah mencapai 20,29 juta ton di gudang Bulog. Sementara, perkiraan ketersediaan beras hingga akhir tahun mencapai 43,69 juta ton, jauh di atas kebutuhan sebesar 32,30 juta ton. Demikian juga dengan produksi jagung yang ditargetkan sebesar 24,7 juta ton, atau jauh di atas kebutuhan sebesar 22,6 juta ton. Sementara produksi komoditas lain seperti bawang merah, cabai, daging ayam, minyak goreng, dan telur ayam diklaim aman sampai akhir tahun. Khusus bawang merah, Agung mengklaim ada kelebihan produksi 131.800 ton pada akhir tahun. Sementara, produksi minyak goreng 23,66 juta ton dan kebutuhan hanya 23,66 juta ton. Tapi, Dwi Andreas Santosa, Guru Besar Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) meragukan data-data pangan yang diklaim Kemtan. Ia mengambil contoh produksi beras. Jika benar akan ada surplus 11,3 juta ton di akhir tahun, berarti harga beras jauh lebih rendah dari saat ini. Surplus itu sudah bisa diekspor.(ktn/noverius l)
Sumber: Kontan
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved