Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Gema Gamelan dan Kuda Lumping di Tanah Bogani Tercinta

Warga Keturunan Jawa di Kecamatan Modayang Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) memilih tetap tinggal di tanah Totabuan.

Penulis: Aldi Ponge | Editor:
TRIBUNMANADO/ALDI PONGE
Alat kesenian jawa yakni gamelan milik Martmukri Sidal 

TRIBUNMANADO.CO.ID, TUTUYAN - Warga Keturunan Jawa di Kecamatan Modayang Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) memilih tetap tinggal di tanah Totabuan.

Sejarah mencatat Belanda telah menjajah Indonesia hampir 3,5 abad. Semua sumber daya bangsa ini dikuasai dan dikuras mereka termasuk sektor pertanian.

Warga Desa Purworejo Bersatu di Kecamatan Modayag Kabupaten Bolaang Mongondow Timur menjadi saksi penindasan Belanda. Orangtua mereka merupakan warga asal pulau Jawa yang diangkut secara paksa untuk dipekerjakan dengan upah rendah di perkebunan kopi milik kolonial yang berada di kaki gunung Ambang tersebut.

Pekerja yang diangkut pertama kali pada 1912 sebanyak 30-an kepala keluarga. Tak hanya itu, untuk mengolah kebun kopinya. Belanda terus mendatangkan pekerja dari Jawa Timur dan Jawa Tengah hingga pada 1916.

Satu abad telah berlalu, sejak para pekerja tersebut diangkut ke tanah Totabuan. Bahkan Belanda pun sudah angkat kaki hampir 70 tahun silam. Namun para anak cucu pekerja tersebut memilih tetap tinggal di Modayag. Alasannya karena mereka telah mencintai tanah para bogani ini. Tetapi mereka tak melupakan budaya dan bahasa leluhur mereka.

Jumlah mereka pun sudah tak sedikit. Saat ini telah mencapai sekitar 1.595 kepala keluarga dengan 5.046 jumlah jiwa. Mereka pun telah membagi kampung mereka menjadi tujuh desa.

"Gelombang pertama didatangkan sekitar 30-an KK pada 1912, termasuk orangtua saya. Mereka datang bukan karena kemauan mereka tapi dipaksa Belanda untuk bekerja di kebun kopi," kata tokoh masyarakat Purworejo Bersatu, Boimen Sukiran (70).

Namun kini generasi pertama yang dikontrak untuk bekerja di Kebun kopi tersebut sudah meninggal dunia dan tersisa adalah generasi kedua, ketiga bahkan keempat.

"Disini 99 persen masih dari Jawa baik Jawa Timur, Jawa Tengah, Madura dan Sunda. Orangtua kami dulu hampir tak ada lagi yang pulang kampung. Apalagi kami tinggal keturunan. Saya tiga kali ke Jawa. Tapi tak pernah sampai ke kampung asal orangtua saya," ucap mantan Sangadi Purworejo Timur ini.

Awalnya lokasi tersebut dikenal sebagai nama perkebunan budidaya. Nanti pada 1953, berdirilah sebuah desa dinamakan Purworejo. Empat tahun kemudian desa dimekarkan dan berdiri Desa Liberia.

"Disebut Purworejo karena waktu itu banyak warga Jawa asal Purworejo. Kemudian pada 2006, berdiri Desa Purworejo Timur. Desa Purworejo Tengah dan Liberia Timur dimekarkan pada 2008. Desa Sumber Rejo dan Candi Rejo baru dimekarkan pada 2013," jelasnya.

Kendati jauh dari tanah leluhur, namun mereka tak melupakan budaya dan ada Jawa. Mereka terus memelihara bahasa.

"Semua sudah lahir disini, beberapa memang baru datang dari Jawa beberapa tahun terakhir. Tapi soal bahasa, anak kecil pun masih tahu," tegasnya.

Kini ribuan hektar kebun kopi peninggalan Belanda sudah menjadi hak milik mereka. Kendati harus melalui proses panjang agar mendapat dokumen kepemilikan.

"Dulu disini ada pabrik kopi dan perumahan para pejabat perusahaan. Tapi semuanya sudah hancur karena dibangun rumah warga," bebernya.

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved