Breaking News
Selasa, 14 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Mundur Dari Jabatannya, PM Inggris: Saya tak Bisa Lagi Jadi Pemimpin

Usai Inggris resmi memilih untuk keluar dari Uni Eropa (Brexit), Perdana Menteri Inggris David Cameron menyatakan pengunduran diri.

Editor: Fransiska_Noel
SESKAB PRAMONO ANUNG
Presiden Jokowi saat bertemu Perdana Menteri Inggris David Cameron. (Foto: Seskab Pramono Anung) 

TRIBUNMANADO.CO.ID, LONDON - Usai Inggris resmi memilih untuk keluar dari Uni Eropa (Brexit), Perdana Menteri Inggris David Cameron menyatakan pengunduran diri.

Sementara beberapa waktu lalu, Presiden Jokowi berharap Inggris tak keluar dari Uni Eropa.

Hal itu dikatakan Presiden Jokowi dalam kunjungan di Brussels, Belgia, Kamis (21/4/2016) lalu, untuk membahas kemungkinan dicapainya perjanjian kemitraan ekonomi menyeleruh (CEPA) antara Indonesia dan Uni Eropa.

"CEPA akan memperkuat ekonomi Indonesia dan negara-negara yang menjadi anggota Uni Eropa. Uni Eropa yang kuat akan memberi kemanfaatan yang besar bagi Indonesia," kata Presiden Jokowi.

"Dalam konteks ini, saya berharap Inggris akan tetap menjadi bagian Uni Eropa," kata Jokowi ketika itu.

Sementara Cameron resmi mengundurkan diri dari jabatannya, setelah puluhan anggota parlemen Partai Buruh mendesaknya untuk mundur.

Pengunduran diri itu disampaikan dalam pidato Cameron di 101 Downing Street, London, Inggris, Jumat (24/6/2016).

"Masyarakat Inggris telah memilih untuk keluar dari Uni Eropa dan pilihan itu harus dihormati," katanya, dikutip Telegraph.
Ia mengatakan bangga bisa menjadi seorang perdana menteri bagi negara itu selama enam tahun terakhir.

Namun Cameron juga menyebutkan bahwa hasil referendum itu pun menandakan bahwa warga Inggris sudah menginginkan kepemimpinan baru.

"Menurut saya, saya sudah tak bisa lagi menjadi pemimpin untuk membawa negara ini mencapai tujuannya," imbuh Cameron, ditemani istrinya, Samantha Cameron. Cameron berbicara dengan suara serak.

Sedianya rapat kabinet akan digelar Senin (27/6/2016) pekan depan untuk membicarakan pengunduran diri itu.

Jelang referendum digelar Kamis (22/6/2016) dua hari lalu, Cameron terus menyuarakan dukungan dan imbauan pada warga Inggris agar menolak Brexit.

Menurutnya, Brexit akan berdampak buruk pada Inggris, terutama pada perekonomian negara itu.

Hasil survei BBC mengungkapkan sekitar 52 persen warga Inggris memilih untuk meninggalkan Uni Eropa, sementara sisanya memilih bertahan menjadi anggota Uni Eropa.

Warga London dan Skotlandia memilih untuk tetap di dalam Uni Eropa, tetapi warga Inggris di wilayah utara menunjukkan hasil sebaliknya.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved